Non Stop Hide and Seek

Aku 4311857940_ec86f71664segera mengantar ibu yang sakit ke kamar untuk tidur. Padahal ayah dan Rio adikku sudah tidur, tapi ibu masih saja belum tidur. “Tapi sudah lama ibu tidak bertemu denganmu. Ibu kangen,” bantah ibu saat kami sampai di tempat tidurnya. Aku tersenyum, “Sudahlah, Bu. Besok kita bisa ngobrol lagi kan? Sekarang yang paling penting kondisi ibu dulu.” Ibu tampak cemas dan gelisah. “Tapi ibu merasa akan kehilangan kamu lagi, Grace. Entah kenapa, perasaan ibu benar-benar nggak enak. Dari tadi dada ibu bergetar!” Aku duduk di sebelah ibu dan menenangkannya, “Sudahlah, Bu. Tenang saja, mana mungkin besok aku pergi lagi kan? Kalaupun pergi, paling-paling main sama Diana dan Sandro kan.”

Ibu masih berwajah cemas, namun bibir naturalnya tersenyum. Ibu pun berbaring dan mulai memejamkan mata. Setelah kudengar dia mendengkur lembut, aku keluar dari kamarnya. Syukurlah hanya ibu yang bangun. Kalau sampai sekeluarga berkumpul menemuiku malam ini, mereka pasti dalam bahaya. Kutahan kuat-kuat hasratku dan segera berlari meninggalkan rumah. Aku terhenti di jalan di depan rumahku. Napasku tersengal dan keringatku menetes. Aku nyaris mencekik leherku kalau laki-laki keparat itu nggak datang.

“Sudah kukatakan, keluargamu dalam bahaya. Jika kamu terus-menerus menemui mereka, cepat atau lambat kamu pasti akan membunuh mereka bahkan meski kamu tidak berniat begitu. Lagipula kamu diburu utusan pemerintah vampir!” katanya berdiri di belakangku. “Kau sudah meracuniku!” tukasku melotot padanya. Laki-laki itu hanya menyeringai tipis. “Kau kira aku mau menolongmu begitu saja saat itu? Kalau aku mengabaikanmu, tentu kau tidak akan bertemu dengan keluargamu lagi selamanya. Keberadaan kita harus dirahasiakan dari siapapun, kalau sampai ketahuan bisa-bisa mereka menemukanmu dan membunuhmu.”

Aku…. Harus bersyukur atau mengeluh? Padahal semua ini nggak akan terjadi! Benar, ini semua gara-gara tiket konser gratis. Aku sampai memiliki rahasia mengerikan begini. Bahkan sekarang aku sampai harus petak umpet dengan mereka…..

Sore yang masih lembap oleh hujan yang sudah reda. Kubangan di mana-mana tidak mengurangi kesenangan di bawah langit yang masih mendung. Suara renyah dari konser band baru yang terkenal tampan-tampan membahana hingga siapapun yang melintasi taman ini dan melihat mereka akan segera membeli tiket dan bergabung denganku dan Diana.

Aku gadis SMU biasa bernama Anastasia Gracia Wirawan yang beruntung menang tiket gratis ikut syuting konser band terkenal Fly Four di taman ini. Bersyukur sekali aku karna hujan reda sebelum konser ini dimulai. Aku kurang suka berdandan, makanya aku tetap tampil biasa di antara gadis-gadis dan wanita dewasa yang mengenakan dress, high heels, boots, atau flat shoes andalan mereka, juga aksesori dan perlengkapan fashion lainnya. Aku sudah mual duluan melihat kosmetik yang mereka pakai demi menarik perhatian anggota Fly Four.

Jeritan mereka makin menghebohkan konser yang sudah meriah oleh nyanyian dan bunyi keras alat-alat musik, tapi menurutku nggak mengganggu selama mereka nggak meliar aja. “Fly Four keren abiiss!! Lihat sini dong!” pekik Diana dengan cengir lebarnya. Padahal aku sudah bisa menikmati konser ini. Sayang. Hancur di tengah-tengah.

Mood-ku langsung rusak begitu aku memergoki pemegang keyboard Fly Four menatapku tajam. Seolah dia mengawasi pencuri. Aku baru ingat namanya memang aneh, Dermawan Rocco Yusalim. Tapi diluar dugaanku kalau sifatnya juga aneh. Bahkan sampai konser berakhir, cowok itu masih saja tembak tatapan ke aku.

Aku jadi nggak bisa menikmati konser gratisku kan!! Huuh! Nyaris aku mengumpat kalau lupa Rocco Ndorocco ini yang paling ganteng dan paling banyak fansnya di Fly Four! Males amat kena serbu fansnya. “Kamu kenapa sih, Grace?! Kebaca banget lagi brokenmood!” tegur Diana yang asyik menjilati es krimnya.

“Gimana nggak brokenmood kalo udah asyik sama konser jadi bete gara-gara dilihatin mulu sama Rocco Ndorocco itu kayak aku pencuri aja!” jawabku kelepasan. Dalam sekejap para kaum hawa pengagum Rocco mendelik pada kami. Diana segera mengalihkan topik, “Oh! Si ganteng bertangan jagoan itu ya?? Emang dia main keyboard-nya keren banget kaan!”

Begitu serbuan pedas fans Rocco itu bubar, langsung kulempar terimakasih pada Diana yang sudah selamatkan suasana, juga aku. “Kamu nih, jangan asal ceplos gitu dong!” geram Diana begitu kami sudah pindah tempat agak jauh dari taman tempat konser Fly Four. Aku berbisik, “Maaf, maaf. Habis emang bener begitu. Jadi bete kan!”

“Gara-gara harus lari cari tempat jadi koar-koar kan, tenggorokanku! Beli minum dulu deh, kamu mau apa?” omel Diana sambil menawariku. Baiknya sahabatku ini!

“Apa aja yang ada, pokoknya bisa diminum,” jawabku malas mikir. Diana berjalan pergi entah ke mana. Aku menunggu sambil duduk di kursi halte bus dekatku. Seorang cowok keren berjalan menghampiriku. Aku kaget begitu dia menarikku dan memamerkan giginya yang seperti taring vampir. “Hentikaan!!” pekikku mendorongnya ketakutan. Makhluk gila itu nyaris menggigit leherku.

Aku segera berlari ke manapun aku bisa bebas dari kejaran makhluk kelaparan itu. Pikiranku benar-benar kacau dan aku berlari tanpa mempedulikan arah yang kutuju. Cowok itu masih terus mengejarku, bahkan dia makin cepat! Padahal aku sudah berlari cepat sekali, tapi dengan mudah cowok itu menangkapku.

Aku terus melawan; memukul, mencakar—untung kukuku belum kupotong—wajahnya, menendang, pokoknya seluruh badanku kugunakan untuk menyerangnya.

“Tampaknya kamu akan mati disantap makhluk rendahan ini. Sayang sekali kan? Padahal kamu memiliki kelebihan yang hebat. Bagaimana kalau kubunuh makhluk ini untukmu?” bisik Rocco tiba-tiba muncul di belakangku. “A, apa?! bunuh?!” seruku kaget. Nggak cowok liar ini, nggak Rocco, mereka sudah sama-sama gila!!

“Cepatlah, sebelum dia membunuhmu! Tapi kau harus mengabulkan satu syaratku!”

Aku benar-benar nggak bisa memikirkan apa-apa, hingga akhirnya iblis menguasaiku. “Baik! Bunuh saja dia!”

Saat itu juga Rocco Ndorocco itu membunuh cowok bertaring itu. Adegan pertarungan vampir yang biasa kulihat hanya dalam film kini terjadi tepat di depan mataku. Kekuatan yang muncul dari tangan, cakar-cakar dan taring-taring yang bergoyang, wajah haus darah itu, semua membuatku nggak mampu berkedip.

Nggak sampai setengah jam, Rocco Ndorocco ini sudah menghabisi cowok bertaring yang memburuku tadi. Dan dia sendiri ternyata juga memiliki taring yang tadinya hanya gigi manusia biasa itu. “Kalian ini…. Apa?” tanyaku masih gemetaran. Tapi aku bisa berdiri tegak.

“Kami ini makhluk legenda yang dipuja-puja manusia itu. Ada kan? Dalam film, novel, komik, dan karya-karya lainnya…. Kau pasti berpikir kalau vampir hanya makhluk fiksi kan? Sayangnya tidak,” jawab Rocco menyeringai. Jadi karena itu dia menatapku tajam lama sekali? “Hei, kenapa kau merusak mood-ku dengan tatapan tajammu tadi?”

Rocco mengibas-ngibaskan tangannya. “Karena kamu punya kelebihan yang hebat bagi vampir, Grace.”

Setelah itu aku tak ingat apa lagi yang terjadi, tapi sekarang kutemukan diriku terbaring di tempatku bicara dengan Rocco setelah sadar dari pingsanku. Aku bahkan nggak ingat kalau aku pingsan. Aku beranjak berdiri dan Diana sedang mencari-cariku. Saat itu kusadari diriku mulai mengalami perubahan yang buruk.

“Kamu ngapain aja sih, Grace?! Kucari-cari, nggak ada!” omelnya sambil menyodorkan gelas berisi jus jeruk padaku. Aku langsung menghabiskannya karena tenggorokanku terasa sangat kering dan panas. Tapi gejala aneh itu nggak lenyap. Hidungku tiba-tiba menangkap bau harum dari Diana. “Kamu pakai parfum, Di? Harum banget!” gurauku dengan kepala pusing dan tubuh lemas.

“Haah? Ngawur aja. Ngomong-ngomong mukamu pucat banget lho. Kulitmu juga jadi…. Kamu kenapa, Grace?” Diana kaget sekaligus keheranan. Kuangkat kedua tanganku dan kulihat baik-baik. Warna kulitku menjadi lebih putih memucat dibanding sebelumnya. Bahkan warna kakiku juga. Aneh sekali, padahal tadinya warna kulitku kuning kecoklatan.

“Lho? Kenapa bisa jadi begini? Jangan-jangan aku kena kelainan kulit?!”

“Tenang, Grace! Nanti coba aja periksa ke rumah sakit.”

Aku mengangguk setuju. Kutatap Diana lekat-lekat. “Kenapa ya? Rasanya dari tadi aku nyium bau harum dari badanmu.”

“Haah?? Aneh-aneh aja. Sudah, ayo pulang!” ajak Diana yang berjalan mendahuluiku.

Di rumah pun, aku mencium banyak bau harum dari keluargaku. Baunya membuatku ingin menggigit mereka. “Gigit?” gumamku kaget begitu kata itu muncul dalam pikiranku. Aku nggak yakin, tapi semua gejalaku menunjukkannya.

Aku keluar dan mencoba melompat ke dahan tertinggi pohon mangga di tamanku. Dan mengejutkan! Hanya sekali lompat, aku sudah bisa meraih dahan itu dan duduk padanya. Gejala yang biasa kutemukan dalam film, novel, dan karya-karya lain yang menceritakan vampir. Aku baru sadar, kalau Rocco sudah mengubahku menjadi vampir. Saat itu ingatanku berputar balik, dan kronologi aku menjadi vampir menyeruak masuk hingga kepalaku terasa sakit sekali. Aku ingat, Rocco memberiku minum darahnya. Setelah itu aku pingsan karena darah yang benar-benar menjijikkan di lidah manusia itu.

Ya, inilah rahasia baruku. Aku takut. Aku takut akan membunuh keluarga dan teman-teman yang sangat kusayangi. Aku harus pergi dari mereka. Karena itu aku memutuskan untuk ikut dengan Rocco saja. Aku sudah menjadi vampir pelayannya, aku yang sekarang lahir dari darahnya.

Rumahnya hanya dihuni dirinya sendiri dan kakaknya yang chef handal, Vivi. Katanya kedua orangtua mereka mati dibunuh mereka yang mengincarku. Saat itu timbul pertanyaan, “Mereka siapa yang mengincarku?”

Rocco menjawab, “Utusan pemerintah vampir…. Mereka memburumu karena kamu punya hubungan darah dengan vampir kriminal kelas berat yang lama hilang. Ada utusannya yang menemukan keberadaanmu.”

“Kenapa kamu bisa tahu itu?”

“Karena aku sempat bertemu mereka dalam pesta malam vampir. Dan mereka membicarakannya. Menurutku kamu punya kelebihan yang hebat karena vampir kriminal itu termasuk ditakuti.”

Ucapan itu menyadarkanku. “Jadi kamu memanfaatkanku?”

“Aku akan memperlakukanmu sebaik-baiknya.”

Aku sangat kesal dan memutuskan meninggalkan Rocco. Tapi dia menolongku lagi saat aku diserang vampir lain dan aku belum bisa bertarung. Dia membawaku ke rumahnya, saat itu Vivi kakak perempuannya, sudah pulang. Vivi sangat baik dan hangat, penampilannya benar-benar manis tapi dewasa. Berbeda jauh dengan Rocco Ndorocco yang ganteng tapi menyebalkan itu. Saat Rocco keluar, Vivi bercerita padaku bahwa Rocco berniat membebaskan kakek mereka yang ditahan oleh pihak pemerintah vampir karena jebakan dari salah satu menteri vampir. Karena itulah Rocco mencariku dan menjadikanku vampir untuk meminta bantuan kekuatanku.

Padahal kupikir Rocco sudah cukup kuat. “Meski kuat, tapi dia akan segera melemah setelah menggunakan tenaganya sampai batas maksimal. Rocco memang kuat, tapi tubuhnya mengalami kelainan langsung muntah darah dan seluruh uratnya berdenyut-denyut setelah menggunakan kekuatannya berlebihan. Kalau sudah begitu, dia pasti pingsan kalau tidak segera diberi darah,” kata Vivi resah.

Vivi mencemaskan Rocco. Karenanya meski Rocco tak keberatan memberi hidupnya sebagai ganti membebaskan kakek mereka, Rocco memilih mencariku supaya ia tak perlu meninggalkan Vivi dalam penderitaan ditinggal adiknya. Tapi aku tetap marah dan membenci Rocco, karena dia merebutku dari sisi keluarga dan teman-temanku.

Ya, aku sudah menjenguk keluargaku. Syukurlah aku bisa kendalikan hasrat haus darahku meski baru bisa sedikit. “Ayo, pulang. Nanti utusan pemerintah menemukanmu,” ajak Rocco yang berjalan duluan. Sekarang aku mengerti kenapa Rocco sampai jadi yang paling populer dari semua anggota Fly Four. Karena dia vampir. Dan dia menatapku tajam di konser itu karena aku orang yang dicari dan diperlukannya.

“Rocco, aku boleh minta sesuatu?” tanyaku menyusulnya. “Apa?” sahut Rocco melirikku. Aku mengatakannya, dan aku sama sekali nggak menyangka dia mengabulkannya. Padahal dia kelihatan benci bertemu banyak manusia setiap hari. Esoknya aku pulang ke rumah. Rocco dan Vivi segera menjadi tetangga baruku hari itu. Sekolahku yang kedatangan Rocco-nya Fly Four jadi heboh luar biasa, tapi syukurlah Rocco punya cara membuat para kaum hawa nggak merusuhinya.

“Kenapa kamu sampai menghilang 2 bulan?? Aku takut banget, tahu!” seru Diana segera mengintrogasiku. Sandro menyahut, “Iya, sejak konser itu. Padahal kamu hilang gara-gara angin topan di taman konser itu, tapi bisa-bisanya nggak ada yang memberitakannya!”

Aku meringis. “Memang aneh kecelakaan begitu nggak ada yang menyiarkan. Tapi aku diselamatkan Rocco.”

Tentu saja tidak ada berita yang menyiarkannya, karena aku sudah minta Rocco Ndorocco untuk mengatur ingatan teman-teman dekat dan keluargaku dengan kekuatannya. Saat aku menikmati kembalinya keseharianku yang biasanya, aku menahan sulitnya tidak minum darah dan menggigit orang-orang di sekitarku. Tiba-tiba kulihat ada seorang vampir di luar jendela kelasku. Dia menyeringai. Rocco segera berbisik padaku, “Petak umpetnya dimulai!”

Gawat. Sepertinya aku harus cepat-cepat mempelajari cara vampir mengatur ingatan manusia. Aku dan Rocco segera berlari meninggalkan sekolah setelah Rocco mengatur ingatan teman-temanku. Salah satu utusan pemerintah vampir sudah menemukanku dan aku harus kabur terus bersama Rocco sampai aku cukup mampu buat bertarung. Ya, petak umpet ini kayaknya hanya akan berakhir kalau kami mengalami pertarungan puncak dengan pemerintah dan utusan vampir. Entah kapan petak umpet ini berakhir.

Cerpen ini dikutkan #tantangannulis @jiaeffendie di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s