Secangkir Perasaanku

Bunyi nyaring sendok stainless steel yang beradu dengan cangkir vintage terdengar nyaring di telingaku. Aroma lembut kopi bercampur susu merebak dan membuat pagiku hari ini semakin manis. Dari ruang keluarga mengalun lembut lagu bermusik slow yang diputar oleh gadis penebar warna dan rasa dalam hidup ini.

Setelah yakin kopi dengan susu itu sudah tercampur rata, aku membawanya dengan senyum merekah kepadanya. Rambut panjang halusnya bergoyang lembut begitu aku dan kopinya sudah mencapai ruang keluarga. Ia menoleh padaku dan mengembangkan senyum yang membuka hari.

Kuserahkan cangkir itu padanya, “Silakan Nona.”

“Terima kasih ya. Tapi aku kurang nyaman kau panggil ‘nona’, padahal kita kan sekelas,” jawabnya seraya memindahkan cangkir itu ke tangannya.

“Tidak apa-apa. Aku senang dapat memanggilmu ‘nona’,” gumamku, “apa kau keberatan?”

Dela menyeruput kopinya dan menggeleng. “Enak! Kamu memang pandai ya, urusan dapur seperti ini. Mulai sekarang, buatlah kopi macam-macam rasa untukku ya.”

Aku mengernyit mendengar permintaannya yang sama saat aku pertama kali mendapat tawaran darinya menjadi pemegang dapur rumah ini. “Kenapa kau minta begitu? Biasanya kan, majikan menyuruh pelayannya membuatkan apa yang diinginkannya.”

“Tidak menarik nantinya, Ega. Pasti membosankan, tapi kalau kita tidak tahu rasa apa yang akan diminum atau dimakan, pasti sangat mengejutkan. Tapi aku percaya, kamu pasti membuatkan yang enak untukku, meski mungkin aku tak suka,” Dela menaruh cangkir kopinya pada meja kecil di sebelahnya.

Aku hanya bisa mengangguk sebagai balasan ucapan itu. Setelah membereskan dapur, aku segera ganti baju dan bersiap-siap ke sekolah. Dela sudah berangkat duluan dengan mobilnya dan meski aku pernah berharap bisa berangkat bersamanya, aku tetap mengayuh sepeda dengan menyembunyikan perasaanku ini. Begitu mobilnya sudah jauh, baru kukebut kayuhanku dengan mengambil jalan yang lain dari jalan yang ditempuh perempuan cantik berambut lurus jatuh tersebut.

“WOI, EGA!!” teriakan yang memekakkan telinga itu sontak membuat tanganku langsung main rem begitu saja. Kudapati sosok Dio di belakangku dengan motornya sedang tertawa puas. “Sakit jiwa kamu, Yo. Hampir jatuh nih!” kulempar kekesalan padanya.

Tawanya segera berhenti dan berganti ucapan maaf. “Iya deh, maaf Bang Ega. Kamu sih, ngayuh sepeda serius amat! Ngejar Dela ya?” kedua alisnya jadi naik turun, “mau bareng aku?”

Tanpa pikir panjang kutolak mentah-mentah tawaran itu. Yah, Dio memang baik dan jarang main-main kalau memberi pertolongan pada orang lain, tapi aku segan menitipkan sepedaku di tempat lain.

Sejauh ini masalahku cuma hampir jatuh gara-gara suara beonya Dio tadi pagi, kuharap seharian ini di sekolah akan baik-baik saja. Selama waktu istirahat, aku menjaga jarak dari Dela. Dia memang ramah dan baik, tapi aku tidak mau kebaikannya padaku membuatnya dijauhi teman-temannya yang kecentilan dan sering meremehkan orang-orang yang nasibnya sebangsaku.

Satu hari lewat tanpa masalah, kurasa masih aman. Namun, dugaanku itu pudar begitu aku bertemu dengan seorang cewek cantik berwajah campuran indonesia dengan amerika di depan papan mading. Aku memang belum menjelaskannya, papan mading berdiri tepat di samping tempat parkir sepeda di sekolah ini. “AAAAH!!” pekiknya menatap dan menunjukku. Rasanya jadi agak takut juga dekat-dekat cewek berisik seperti ini.

Kaki-kakinya yang indah bagai patung menuntun tubuh mungilnya menghampiriku. “Akhirnya bisa ketemu juga! Antar aku ke ruang kepala sekolah dong! Aku nggak tahu jalan,” pintanya dengan senyum simpul. Kedua mataku berputar memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dia benar-benar cantik dan keren, baju seragamnya juga manis sekali.

“Baiklah, tapi kau siapa?”

“Oh, aku lupa kita belum kenalan. Namaku Angel, salam kenal!”

Dia juga periang dan spontan, sepertinya gadis yang baik dan menyenangkan.

“Aku Ega, halo. Ya sudah, ayo ikut aku!”

Gadis itu membuntutiku dengan langkahnya yang ringan dan pandangannya tetap beredar tanpa tujuan. Karena rasanya kurang nyaman diam-diaman seperti ini, aku membuka obrolan kecil, “Angel kan? Ada perlu apa dengan kepala sekolah?”

Dia menyahut, “Mau ketemulah! Ngurus kepindahanku sama…. Minta uang.”

“Apa? Uang? Memangnya kepala sekolah ada hutang apa padamu?” tanyaku tak percaya dan geli sendiri.

“Hutang? Dia nggak ada hutang apa-apa padaku. Wajar kan aku minta uang sama papiku sendiri?”

Mendengarnya, aku tak mampu menahan keterkejutanku. “PAPI?!”

Saat itu, aku baru sadar kami sudah sampai di depan ruang kepala sekolah. Pintunya terbuka dan muncullah kepala sekolah yang masih tampak kuat dan muda meski usianya sudah 40 tahun.

“Angel, sudah berapa kali Papi bilang jangan ribut di sekolah!” sambutan keras hinggap pada gadis bernama Angel itu.

Aku segera membungkuk hormat dan memberi salam pada kepala sekolah ini. “Oh, kamu yang membawa Angel ke sini? Terima kasih ya, sudah mau mengantarnya,” komentar kepala sekolah tersenyum.

“Pi, jadi kan? Awas kalo nggak jadi!” Angel memperingatkan dengan jari menunjuk kepala sekolah.

“Iya, iya, jadi. Cepat masuk! Maaf merepotkanmu, Ega.”

Cepat-cepat kubalas, “Sama sekali tidak kok!”

Lalu mereka menghilang di balik pintu ruangan itu. Tiba-tiba Dela sudah berlari mengarah padaku. “Barusan itu Angellica Halim Sandoko?” tanyanya tak percaya. “Kau mengenalnya? Aku hanya tahu namanya Angel,” jawabku dengan santai. Tiba-tiba kedua lenganku diremas gadis yang kusukai ini. “Hebat! Dia ahli masak terkenal lho! Masih sebaya kita, tapi sudah tampil di TV dan macam-macam media jadi pembawa acara masak kesukaanku!”

Reaksi Dela ini jadi kejutan buatku. Tak kusangka gadis yang biasanya tenang bisa seantusias sekarang. Pasti dia sangat mengidolakan Angel. “Wah, kau tahu banyak ya, tentang dia. Kudengar dia mengurus kepindahannya, kalau dia benar-benar bersekolah di sini kau bisa berteman dengannya.”

Dela berseru dengan semangat, “Pasti bisa!” dan kuacungkan jempolku padanya.

Sepulang sekolah, aku membersihkan dapur setelah ganti baju. Dela belum pulang karena diajak teman-temannya ke mall. Selagi ia belum pulang, aku membuatkan snack kejutan untuknya dan menyiapkan secangkir kopi. Dela sangat suka kopi sampai-sampai setiap hari meminumnya 2 cangkir dalam sehari. Untuk mengungkapkan dukunganku padanya, aku akan memberinya secangkir caramel macchiato.

Untuk menjaga rasanya, aku menyimpan caramel macchiato di kulkas sedangkan sepiring sandwich sosis hanya kututupi dengan tudung saji di meja dapur.

Dia tak kunjung pulang, tapi aku harus segera pulang karena ibu sedang flu. Akhirnya kutitipkan sajianku itu pada bu Tatik. Seragamku kali ini kutinggalkan karena besok pagi pasti harus membuatkan kopi dan sarapan untuk Dela. Sepanjang jalan, aku mencemaskan Dela dan ibu. Anehnya, wajah Angel juga muncul meski hanya sekilas. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, tetapi di rumah Angel sudah duduk di sebelah ibu yang tamak lebih baik.

“Kenapa kamu di sini?!” pekikku kaget. Angel menjawab, “Oh, tadi papi minta aku beri ini buatmu.”

Ia memberiku sekotak pizza ukuran large dengan banyak bola-bola daging di atasnya dan selembar surat. Kepala sekolah memintaku untuk membawa Angel berkeliling sekolah besok dan pizza itu bentuk terima kasih atas perbuatanku mengantar Angel ke ruangannya tadi. “Padahal kepala sekolah tidak perlu melakukan ini. Tanpa hadiah, aku tetap mau melakukan permintaannya kok,” gumamku merasa terbebani dengan pizza itu.

“Bener nih? Ega ternyata memang orang baik ya! Mataku nggak salah nilai!” seru Angel berseri-seri. “Aku nggak perlu penilaianmu! Ah, gimana kondisi Ibu?” sahutku mengalihkan pandangan ke arah ibu.

“Ibu sudah lebih enak, Ga. Syukurlah kamu dapat teman baik seperti Angel, dia menemani Ibu sampai kamu pulang lho,” kata ibu mengelus lengan kanan Angel.

Angel senyum-senyum puas mendengarnya. “Ya sudah, terima kasih sudah mau menjaga Ibu. Sekarang kamu pulang saja, Angel. Nanti keburu gelap.”

Aku tak yakin, tapi sekilas kulihat gadis itu berwajah muram begitu kuminta dia pulang. “Oke deh! Tante, cepet sembuh ya. Dah, Ega!” pamitnya tersenyum pada Ibu dan melambaikan tangan padaku. Setelah meyakini sosok itu sudah jauh dari sini, ibu berkata padaku, “Angel itu baik ya. Anak yang menyenangkan.”

Hembusan napas yang menjadi balasanku atas komentar ibu itu. Malamnya, ponselku berdering dan menyampaikan SMS dari Dela: Terima kasih caramel macchiato dan sandwich sosisnya, benar-benar memulihkan dari jalan-jalan 🙂

Sama-sama Nona Dela. Senang mendengarmu menyukainya 😀

Hihihihi, aku pasti sudah merepotkanmu. Ya sudah, selamat malam. Selamat tidur ya, Ga

Bukan apa-apa, Nona. Ya, selamat tidur juga

Kulempar ponsel ke belakang bantalku. Perasaan senang meluap-luap dalam diriku, jarang sekali Dela mengontakku duluan. Apalagi malam-malam begini.

Tanpa terasa cahaya matahari mulai menembus kaca jendela kamarku. Padahal aku merasa belum sampai 4 jam tidur. Ibu sudah bangun duluan dan membangunkanku. Kutarik handuk dan sepasang baju ganti memasuki kamar mandi, setelah itu sepedaku melesat menuju rumah Dela.

“Hei, Ega. Kopi kemarin enak sekali, sangat pas untukku yang capek sepulang jalan-jalan dan kepikiran banyak hal!” sambut Dela yang tertawa lembut. “Syukurlah, tidak sia-sia aku membuatnya. Aku akan membuatkan Nona kopi, sebelumnya bolehkah aku berganti dengan seragam dulu?” tanyaku seraya mengintip ke balik kamar pak Sapto si satpam, yang sering dipinjamkan untukku berganti baju.

Dela mengangguk-angguk, “Boleh kok! Pagi ini aku juga tidak terburu-buru, jadi santai saja ya.”

Lari kecil membawaku ke kamar pak Sapto dan kutemukan seragamku terlipat rapi di samping bantal. Seragam sudah membungkus tubuhku, kini giliranku membuatkan kopi untuk Dela. Hmm, hari ini enaknya apa ya? Saat terbersit bayangan Flat White di kepalaku, ekor mataku menangkap sosok Dela bersama seorang cowok di depan gerbang. Mataku berkedip sejenak dan sedikit menyipit, hasilnya tampaklah sosok Dio.

Apa? Kenapa dia pagi-pagi mendatangi Dela? Aku tahu persis betapa Dio sangat mengerti perasaanku pada Dela bukan main-main. Diam-diam aku menghampiri pohon di belakang mereka dan menguping pembicaraan yang tersiar.

“Kamu serius, Del? Padahal Ega pasti lagi mikirin kamu!”

“Nggak apa-apa, Yo. Bukan maksudku jahat sama Ega, tapi aku harus melakukannya.”

Apa maksudnya ini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi??

“Oke deh. Buruan ya! Kelamaan kutinggal.”

“Tunggu dong, Yo! Cuma minum kopi sebentar kok, bentar!”

Sebelum Dela menggapai ruang keluarga, aku segera kembali ke dapur. Bayangan Flat White hilang seketika. Yang terpancar dalam pikiranku justru rasa pahit Black Coffee. Meski hanya mendengar beberapa potong obrolan mereka, aku tahu kalau Dela mau berangkat bareng Dio. Entah ada maksud apa di antara mereka.

“Ega, maaf ya, tapi aku minum kopi saja hari ini. Sarapannya tidak usah!” seru Dela kembali dengan napas tersengal. Aku menyodorkan cangkir kopi padanya tanpa senyum. Ia meminum tanpa melihat warna dan mencium aromanya, begitu saja. Pasti berangkat bersama Dio sangat penting baginya.

“UHUK! Ups….! Black Coffee? Ga, kenapa pagi-pagi aku sudah dikasih Black Coffee?!” Dela melotot tak  habis pikir padaku. Dengan santai aku menjawab, “Rupanya Nona tidak mengerti. Sudahlah, biarkan semua rasa kopi selama ini yang menjawab pertanyaanmu.”

Kusimpan cangkir itu tanpa menunggu Dela menghabiskannya. Dela sempat terpaku keheranan mendengar lontaranku itu, namun ia bergegas menghampiri Dio. Ya, aku mengerti. Bahkan rasa kopi buatanku yang sudah tercampur kuat dengan tumpahan perasaan ini tak akan bisa membuka mata perempuan yang kucintai itu. Aku sendiri tak mengerti apa maksud Dio menjemput Dela, mungkin dia juga menyukainya tapi sungkan padaku, tapi aku tidak akan marah atau bahkan membencinya. Dio memang jauh lebih keren dariku. Lagipula yang namanya cinta tak harus memiliki kan? Hanya harus berkorban. Biarlah, selama Dela bahagia.

Ini pertama kalinya dan sebenarnya malas kulakukan setiap teringat jerih payah ibu, tapi aku benar-benar tidak mampu ke sekolah dan akhirnya bolos. Aku tidak pulang ke rumah dan tidak menyiapkan kopi untuk Dela yang sudah memberiku pekerjaan mudah berhasil lumayan, kakiku berlari menuju perpustakaan kecil di tepi jalan yang jarang dikunjungi orang, Non Buta Buku.

Di sana sangat sempit mengingat rumah itu kecil dengan tumpukan buku yang memenuhinya dan berserakan, tapi rasanya bisa menjadi pendingin kepalaku. “Lho, Ega? Kenapa kamu ada di sini?” tegur suara yang kukenal. Begitu kucari asal suara, Angel sudah berjongkok di belakangku.

“Huuaaa!! Kamu sendiri…. Ngapain di sini?!” pekikku lagi-lagi dibuat jantungan sama makhluk cantik ini.

Ia memiringkan kepalanya, “Ngapain? Aku bolos kok. Kamu juga ya?”

Pertanyaannya itu membekukan pita suaraku.

“Nggak kusangka anak alim kayak Ega bolos. Pasti kamu lagi ada masalah, kenapa nggak cerita?”

“Karena ini kesalahanku sendiri. Kenapa kamu menduga begitu?” sahutku kembali pada halaman buku ekonomiku.

Angel terdiam sejenak dan melempar pandangan mengarah pada tumpukan buku di sebelahku. “Soalnya aku merasa kita punya kemiripan. Tapi nggak kelihatan jelas sih, aku cuma ngerasa gitu aja.”

Jawaban itu merebut perhatianku. Terdengar tidak masuk akal, tapi perasaanku mengiyakannya. Sepertinya kami memang memiliki kesamaan, meski kami sendiri tidak tahu di mana miripnya.

“Sebenarnya aku malas membocorkannya, tapi kalau kamu ada di sini kamu nggak bakal dapat Cappucino Cake perdananya Dela lho.”

Napasku terhenti sejenak mendengarnya. “Apa katamu?”

“Dela kemarin bukan jalan-jalan dengan teman-temannya, tapi bersamaku. Dia minta saran untuk membuat Cappucino Cake. Katanya hadiah ulangtahun untukmu. Padahal dia sudah sengaja mencari resep yang rasa kuenya ringan, tapi nantinya dia akan kesulitan menemukanmu,” kata Angel menjelaskan.

Aku segera menyangkalnya, “Paling-paling kamu keliru. Bisa saja kue itu untuk Dio, tadi pagi mereka berangkat bareng.”

“Jangan-jangan itu masalahmu ya? Kamu salah, Ega. Dio sengaja menjemput Dela untuk mengantarnya ke toko yang menjual kado yang sudah disiapkan Dela buatmu. Dia minta Dio memberitahu apa barang yang kau sukai,” sahut Angel ngotot. Kali ini mulutku terkunci rapat. Apa itu semua benar? Aku hanya salah sangka saja dong?

“Cepat temui Dela. Jangan sampai Capuccino Cake-nya mubazir!” suruh Angel mendorongku keluar.

Pikiranku benar-benar kacau sekarang, tapi aku berusaha mempercayainya. Aku akan mempercayai Dela! Aku berlari begitu saja tanpa arah yang pasti dan benar, yang ada dalam pikiranku hanya Dela. Di sekolah dia tak ada, di rumahnya juga, jantungku sudah mau lepas saja rasanya!!

Tapi aku lega melihatnya di depan rumahku. “Ega…. Maaf ya. Tadi pagi aku tidak sadar dengan apa yang kamu maksud.”

“Bukan, Del. Salahku ambil kesimpulan sendiri.”

Dela tersenyum lega. “Akhirnya kamu memanggilku Dela tanpa ‘nona’. Happy birthday, Ga!”

Aku mencuil Cappucino Cake buatan Dela dan meneguk segelas Choco Latte. Wujud perasaan gadis ini padaku.

“Makasih, Del.”

“Ngomong-ngomong hari ini harusnya Ega temeni aku lihat-lihat sekolah lho!!” Angel sudah berdiri di belakang kami.

“ANGEL?!” teriakku dan Dela bersamaan. “Sudahlah! Besok ganti ruginya, Ega. Kamu nggak boleh lupa, apalagi kamu hutang satu sama aku,” lagak Angel memperingatkanku.

“Siap, Bos!”

screencinta screencinta2 screencinta3 screencinta4

ungu3-copy-copy1

“Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway Tema Cinta”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s