Secangkir Perasaanku

Bunyi nyaring sendok stainless steel yang beradu dengan cangkir vintage terdengar nyaring di telingaku. Aroma lembut kopi bercampur susu merebak dan membuat pagiku hari ini semakin manis. Dari ruang keluarga mengalun lembut lagu bermusik slow yang diputar oleh gadis penebar warna dan rasa dalam hidup ini.

Setelah yakin kopi dengan susu itu sudah tercampur rata, aku membawanya dengan senyum merekah kepadanya. Rambut panjang halusnya bergoyang lembut begitu aku dan kopinya sudah mencapai ruang keluarga. Ia menoleh padaku dan mengembangkan senyum yang membuka hari.

Kuserahkan cangkir itu padanya, “Silakan Nona.”

“Terima kasih ya. Tapi aku kurang nyaman kau panggil ‘nona’, padahal kita kan sekelas,” jawabnya seraya memindahkan cangkir itu ke tangannya.

“Tidak apa-apa. Aku senang dapat memanggilmu ‘nona’,” gumamku, “apa kau keberatan?”

Dela menyeruput kopinya dan menggeleng. “Enak! Kamu memang pandai ya, urusan dapur seperti ini. Mulai sekarang, buatlah kopi macam-macam rasa untukku ya.”

Aku mengernyit mendengar permintaannya yang sama saat aku pertama kali mendapat tawaran darinya menjadi pemegang dapur rumah ini. “Kenapa kau minta begitu? Biasanya kan, majikan menyuruh pelayannya membuatkan apa yang diinginkannya.”

“Tidak menarik nantinya, Ega. Pasti membosankan, tapi kalau kita tidak tahu rasa apa yang akan diminum atau dimakan, pasti sangat mengejutkan. Tapi aku percaya, kamu pasti membuatkan yang enak untukku, meski mungkin aku tak suka,” Dela menaruh cangkir kopinya pada meja kecil di sebelahnya.

Aku hanya bisa mengangguk sebagai balasan ucapan itu. Setelah membereskan dapur, aku segera ganti baju dan bersiap-siap ke sekolah. Dela sudah berangkat duluan dengan mobilnya dan meski aku pernah berharap bisa berangkat bersamanya, aku tetap mengayuh sepeda dengan menyembunyikan perasaanku ini. Begitu mobilnya sudah jauh, baru kukebut kayuhanku dengan mengambil jalan yang lain dari jalan yang ditempuh perempuan cantik berambut lurus jatuh tersebut.

“WOI, EGA!!” teriakan yang memekakkan telinga itu sontak membuat tanganku langsung main rem begitu saja. Kudapati sosok Dio di belakangku dengan motornya sedang tertawa puas. “Sakit jiwa kamu, Yo. Hampir jatuh nih!” kulempar kekesalan padanya.

Tawanya segera berhenti dan berganti ucapan maaf. “Iya deh, maaf Bang Ega. Kamu sih, ngayuh sepeda serius amat! Ngejar Dela ya?” kedua alisnya jadi naik turun, “mau bareng aku?”

Tanpa pikir panjang kutolak mentah-mentah tawaran itu. Yah, Dio memang baik dan jarang main-main kalau memberi pertolongan pada orang lain, tapi aku segan menitipkan sepedaku di tempat lain.

Sejauh ini masalahku cuma hampir jatuh gara-gara suara beonya Dio tadi pagi, kuharap seharian ini di sekolah akan baik-baik saja. Selama waktu istirahat, aku menjaga jarak dari Dela. Dia memang ramah dan baik, tapi aku tidak mau kebaikannya padaku membuatnya dijauhi teman-temannya yang kecentilan dan sering meremehkan orang-orang yang nasibnya sebangsaku.

Satu hari lewat tanpa masalah, kurasa masih aman. Namun, dugaanku itu pudar begitu aku bertemu dengan seorang cewek cantik berwajah campuran indonesia dengan amerika di depan papan mading. Aku memang belum menjelaskannya, papan mading berdiri tepat di samping tempat parkir sepeda di sekolah ini. “AAAAH!!” pekiknya menatap dan menunjukku. Rasanya jadi agak takut juga dekat-dekat cewek berisik seperti ini.

Kaki-kakinya yang indah bagai patung menuntun tubuh mungilnya menghampiriku. “Akhirnya bisa ketemu juga! Antar aku ke ruang kepala sekolah dong! Aku nggak tahu jalan,” pintanya dengan senyum simpul. Kedua mataku berputar memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dia benar-benar cantik dan keren, baju seragamnya juga manis sekali.

“Baiklah, tapi kau siapa?”

“Oh, aku lupa kita belum kenalan. Namaku Angel, salam kenal!”

Dia juga periang dan spontan, sepertinya gadis yang baik dan menyenangkan.

“Aku Ega, halo. Ya sudah, ayo ikut aku!”

Gadis itu membuntutiku dengan langkahnya yang ringan dan pandangannya tetap beredar tanpa tujuan. Karena rasanya kurang nyaman diam-diaman seperti ini, aku membuka obrolan kecil, “Angel kan? Ada perlu apa dengan kepala sekolah?”

Dia menyahut, “Mau ketemulah! Ngurus kepindahanku sama…. Minta uang.”

“Apa? Uang? Memangnya kepala sekolah ada hutang apa padamu?” tanyaku tak percaya dan geli sendiri.

“Hutang? Dia nggak ada hutang apa-apa padaku. Wajar kan aku minta uang sama papiku sendiri?”

Mendengarnya, aku tak mampu menahan keterkejutanku. “PAPI?!”

Saat itu, aku baru sadar kami sudah sampai di depan ruang kepala sekolah. Pintunya terbuka dan muncullah kepala sekolah yang masih tampak kuat dan muda meski usianya sudah 40 tahun.

“Angel, sudah berapa kali Papi bilang jangan ribut di sekolah!” sambutan keras hinggap pada gadis bernama Angel itu.

Aku segera membungkuk hormat dan memberi salam pada kepala sekolah ini. “Oh, kamu yang membawa Angel ke sini? Terima kasih ya, sudah mau mengantarnya,” komentar kepala sekolah tersenyum.

“Pi, jadi kan? Awas kalo nggak jadi!” Angel memperingatkan dengan jari menunjuk kepala sekolah.

“Iya, iya, jadi. Cepat masuk! Maaf merepotkanmu, Ega.”

Cepat-cepat kubalas, “Sama sekali tidak kok!”

Lalu mereka menghilang di balik pintu ruangan itu. Tiba-tiba Dela sudah berlari mengarah padaku. “Barusan itu Angellica Halim Sandoko?” tanyanya tak percaya. “Kau mengenalnya? Aku hanya tahu namanya Angel,” jawabku dengan santai. Tiba-tiba kedua lenganku diremas gadis yang kusukai ini. “Hebat! Dia ahli masak terkenal lho! Masih sebaya kita, tapi sudah tampil di TV dan macam-macam media jadi pembawa acara masak kesukaanku!”

Reaksi Dela ini jadi kejutan buatku. Tak kusangka gadis yang biasanya tenang bisa seantusias sekarang. Pasti dia sangat mengidolakan Angel. “Wah, kau tahu banyak ya, tentang dia. Kudengar dia mengurus kepindahannya, kalau dia benar-benar bersekolah di sini kau bisa berteman dengannya.”

Dela berseru dengan semangat, “Pasti bisa!” dan kuacungkan jempolku padanya.

Sepulang sekolah, aku membersihkan dapur setelah ganti baju. Dela belum pulang karena diajak teman-temannya ke mall. Selagi ia belum pulang, aku membuatkan snack kejutan untuknya dan menyiapkan secangkir kopi. Dela sangat suka kopi sampai-sampai setiap hari meminumnya 2 cangkir dalam sehari. Untuk mengungkapkan dukunganku padanya, aku akan memberinya secangkir caramel macchiato.

Untuk menjaga rasanya, aku menyimpan caramel macchiato di kulkas sedangkan sepiring sandwich sosis hanya kututupi dengan tudung saji di meja dapur.

Dia tak kunjung pulang, tapi aku harus segera pulang karena ibu sedang flu. Akhirnya kutitipkan sajianku itu pada bu Tatik. Seragamku kali ini kutinggalkan karena besok pagi pasti harus membuatkan kopi dan sarapan untuk Dela. Sepanjang jalan, aku mencemaskan Dela dan ibu. Anehnya, wajah Angel juga muncul meski hanya sekilas. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, tetapi di rumah Angel sudah duduk di sebelah ibu yang tamak lebih baik.

“Kenapa kamu di sini?!” pekikku kaget. Angel menjawab, “Oh, tadi papi minta aku beri ini buatmu.”

Ia memberiku sekotak pizza ukuran large dengan banyak bola-bola daging di atasnya dan selembar surat. Kepala sekolah memintaku untuk membawa Angel berkeliling sekolah besok dan pizza itu bentuk terima kasih atas perbuatanku mengantar Angel ke ruangannya tadi. “Padahal kepala sekolah tidak perlu melakukan ini. Tanpa hadiah, aku tetap mau melakukan permintaannya kok,” gumamku merasa terbebani dengan pizza itu.

“Bener nih? Ega ternyata memang orang baik ya! Mataku nggak salah nilai!” seru Angel berseri-seri. “Aku nggak perlu penilaianmu! Ah, gimana kondisi Ibu?” sahutku mengalihkan pandangan ke arah ibu.

“Ibu sudah lebih enak, Ga. Syukurlah kamu dapat teman baik seperti Angel, dia menemani Ibu sampai kamu pulang lho,” kata ibu mengelus lengan kanan Angel.

Angel senyum-senyum puas mendengarnya. “Ya sudah, terima kasih sudah mau menjaga Ibu. Sekarang kamu pulang saja, Angel. Nanti keburu gelap.”

Aku tak yakin, tapi sekilas kulihat gadis itu berwajah muram begitu kuminta dia pulang. “Oke deh! Tante, cepet sembuh ya. Dah, Ega!” pamitnya tersenyum pada Ibu dan melambaikan tangan padaku. Setelah meyakini sosok itu sudah jauh dari sini, ibu berkata padaku, “Angel itu baik ya. Anak yang menyenangkan.”

Hembusan napas yang menjadi balasanku atas komentar ibu itu. Malamnya, ponselku berdering dan menyampaikan SMS dari Dela: Terima kasih caramel macchiato dan sandwich sosisnya, benar-benar memulihkan dari jalan-jalan 🙂

Sama-sama Nona Dela. Senang mendengarmu menyukainya 😀

Hihihihi, aku pasti sudah merepotkanmu. Ya sudah, selamat malam. Selamat tidur ya, Ga

Bukan apa-apa, Nona. Ya, selamat tidur juga

Kulempar ponsel ke belakang bantalku. Perasaan senang meluap-luap dalam diriku, jarang sekali Dela mengontakku duluan. Apalagi malam-malam begini.

Tanpa terasa cahaya matahari mulai menembus kaca jendela kamarku. Padahal aku merasa belum sampai 4 jam tidur. Ibu sudah bangun duluan dan membangunkanku. Kutarik handuk dan sepasang baju ganti memasuki kamar mandi, setelah itu sepedaku melesat menuju rumah Dela.

“Hei, Ega. Kopi kemarin enak sekali, sangat pas untukku yang capek sepulang jalan-jalan dan kepikiran banyak hal!” sambut Dela yang tertawa lembut. “Syukurlah, tidak sia-sia aku membuatnya. Aku akan membuatkan Nona kopi, sebelumnya bolehkah aku berganti dengan seragam dulu?” tanyaku seraya mengintip ke balik kamar pak Sapto si satpam, yang sering dipinjamkan untukku berganti baju.

Dela mengangguk-angguk, “Boleh kok! Pagi ini aku juga tidak terburu-buru, jadi santai saja ya.”

Lari kecil membawaku ke kamar pak Sapto dan kutemukan seragamku terlipat rapi di samping bantal. Seragam sudah membungkus tubuhku, kini giliranku membuatkan kopi untuk Dela. Hmm, hari ini enaknya apa ya? Saat terbersit bayangan Flat White di kepalaku, ekor mataku menangkap sosok Dela bersama seorang cowok di depan gerbang. Mataku berkedip sejenak dan sedikit menyipit, hasilnya tampaklah sosok Dio.

Apa? Kenapa dia pagi-pagi mendatangi Dela? Aku tahu persis betapa Dio sangat mengerti perasaanku pada Dela bukan main-main. Diam-diam aku menghampiri pohon di belakang mereka dan menguping pembicaraan yang tersiar.

“Kamu serius, Del? Padahal Ega pasti lagi mikirin kamu!”

“Nggak apa-apa, Yo. Bukan maksudku jahat sama Ega, tapi aku harus melakukannya.”

Apa maksudnya ini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi??

“Oke deh. Buruan ya! Kelamaan kutinggal.”

“Tunggu dong, Yo! Cuma minum kopi sebentar kok, bentar!”

Sebelum Dela menggapai ruang keluarga, aku segera kembali ke dapur. Bayangan Flat White hilang seketika. Yang terpancar dalam pikiranku justru rasa pahit Black Coffee. Meski hanya mendengar beberapa potong obrolan mereka, aku tahu kalau Dela mau berangkat bareng Dio. Entah ada maksud apa di antara mereka.

“Ega, maaf ya, tapi aku minum kopi saja hari ini. Sarapannya tidak usah!” seru Dela kembali dengan napas tersengal. Aku menyodorkan cangkir kopi padanya tanpa senyum. Ia meminum tanpa melihat warna dan mencium aromanya, begitu saja. Pasti berangkat bersama Dio sangat penting baginya.

“UHUK! Ups….! Black Coffee? Ga, kenapa pagi-pagi aku sudah dikasih Black Coffee?!” Dela melotot tak  habis pikir padaku. Dengan santai aku menjawab, “Rupanya Nona tidak mengerti. Sudahlah, biarkan semua rasa kopi selama ini yang menjawab pertanyaanmu.”

Kusimpan cangkir itu tanpa menunggu Dela menghabiskannya. Dela sempat terpaku keheranan mendengar lontaranku itu, namun ia bergegas menghampiri Dio. Ya, aku mengerti. Bahkan rasa kopi buatanku yang sudah tercampur kuat dengan tumpahan perasaan ini tak akan bisa membuka mata perempuan yang kucintai itu. Aku sendiri tak mengerti apa maksud Dio menjemput Dela, mungkin dia juga menyukainya tapi sungkan padaku, tapi aku tidak akan marah atau bahkan membencinya. Dio memang jauh lebih keren dariku. Lagipula yang namanya cinta tak harus memiliki kan? Hanya harus berkorban. Biarlah, selama Dela bahagia.

Ini pertama kalinya dan sebenarnya malas kulakukan setiap teringat jerih payah ibu, tapi aku benar-benar tidak mampu ke sekolah dan akhirnya bolos. Aku tidak pulang ke rumah dan tidak menyiapkan kopi untuk Dela yang sudah memberiku pekerjaan mudah berhasil lumayan, kakiku berlari menuju perpustakaan kecil di tepi jalan yang jarang dikunjungi orang, Non Buta Buku.

Di sana sangat sempit mengingat rumah itu kecil dengan tumpukan buku yang memenuhinya dan berserakan, tapi rasanya bisa menjadi pendingin kepalaku. “Lho, Ega? Kenapa kamu ada di sini?” tegur suara yang kukenal. Begitu kucari asal suara, Angel sudah berjongkok di belakangku.

“Huuaaa!! Kamu sendiri…. Ngapain di sini?!” pekikku lagi-lagi dibuat jantungan sama makhluk cantik ini.

Ia memiringkan kepalanya, “Ngapain? Aku bolos kok. Kamu juga ya?”

Pertanyaannya itu membekukan pita suaraku.

“Nggak kusangka anak alim kayak Ega bolos. Pasti kamu lagi ada masalah, kenapa nggak cerita?”

“Karena ini kesalahanku sendiri. Kenapa kamu menduga begitu?” sahutku kembali pada halaman buku ekonomiku.

Angel terdiam sejenak dan melempar pandangan mengarah pada tumpukan buku di sebelahku. “Soalnya aku merasa kita punya kemiripan. Tapi nggak kelihatan jelas sih, aku cuma ngerasa gitu aja.”

Jawaban itu merebut perhatianku. Terdengar tidak masuk akal, tapi perasaanku mengiyakannya. Sepertinya kami memang memiliki kesamaan, meski kami sendiri tidak tahu di mana miripnya.

“Sebenarnya aku malas membocorkannya, tapi kalau kamu ada di sini kamu nggak bakal dapat Cappucino Cake perdananya Dela lho.”

Napasku terhenti sejenak mendengarnya. “Apa katamu?”

“Dela kemarin bukan jalan-jalan dengan teman-temannya, tapi bersamaku. Dia minta saran untuk membuat Cappucino Cake. Katanya hadiah ulangtahun untukmu. Padahal dia sudah sengaja mencari resep yang rasa kuenya ringan, tapi nantinya dia akan kesulitan menemukanmu,” kata Angel menjelaskan.

Aku segera menyangkalnya, “Paling-paling kamu keliru. Bisa saja kue itu untuk Dio, tadi pagi mereka berangkat bareng.”

“Jangan-jangan itu masalahmu ya? Kamu salah, Ega. Dio sengaja menjemput Dela untuk mengantarnya ke toko yang menjual kado yang sudah disiapkan Dela buatmu. Dia minta Dio memberitahu apa barang yang kau sukai,” sahut Angel ngotot. Kali ini mulutku terkunci rapat. Apa itu semua benar? Aku hanya salah sangka saja dong?

“Cepat temui Dela. Jangan sampai Capuccino Cake-nya mubazir!” suruh Angel mendorongku keluar.

Pikiranku benar-benar kacau sekarang, tapi aku berusaha mempercayainya. Aku akan mempercayai Dela! Aku berlari begitu saja tanpa arah yang pasti dan benar, yang ada dalam pikiranku hanya Dela. Di sekolah dia tak ada, di rumahnya juga, jantungku sudah mau lepas saja rasanya!!

Tapi aku lega melihatnya di depan rumahku. “Ega…. Maaf ya. Tadi pagi aku tidak sadar dengan apa yang kamu maksud.”

“Bukan, Del. Salahku ambil kesimpulan sendiri.”

Dela tersenyum lega. “Akhirnya kamu memanggilku Dela tanpa ‘nona’. Happy birthday, Ga!”

Aku mencuil Cappucino Cake buatan Dela dan meneguk segelas Choco Latte. Wujud perasaan gadis ini padaku.

“Makasih, Del.”

“Ngomong-ngomong hari ini harusnya Ega temeni aku lihat-lihat sekolah lho!!” Angel sudah berdiri di belakang kami.

“ANGEL?!” teriakku dan Dela bersamaan. “Sudahlah! Besok ganti ruginya, Ega. Kamu nggak boleh lupa, apalagi kamu hutang satu sama aku,” lagak Angel memperingatkanku.

“Siap, Bos!”

screencinta screencinta2 screencinta3 screencinta4

ungu3-copy-copy1

“Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway Tema Cinta”

Iklan

Non Stop Hide and Seek

Aku 4311857940_ec86f71664segera mengantar ibu yang sakit ke kamar untuk tidur. Padahal ayah dan Rio adikku sudah tidur, tapi ibu masih saja belum tidur. “Tapi sudah lama ibu tidak bertemu denganmu. Ibu kangen,” bantah ibu saat kami sampai di tempat tidurnya. Aku tersenyum, “Sudahlah, Bu. Besok kita bisa ngobrol lagi kan? Sekarang yang paling penting kondisi ibu dulu.” Ibu tampak cemas dan gelisah. “Tapi ibu merasa akan kehilangan kamu lagi, Grace. Entah kenapa, perasaan ibu benar-benar nggak enak. Dari tadi dada ibu bergetar!” Aku duduk di sebelah ibu dan menenangkannya, “Sudahlah, Bu. Tenang saja, mana mungkin besok aku pergi lagi kan? Kalaupun pergi, paling-paling main sama Diana dan Sandro kan.”

Ibu masih berwajah cemas, namun bibir naturalnya tersenyum. Ibu pun berbaring dan mulai memejamkan mata. Setelah kudengar dia mendengkur lembut, aku keluar dari kamarnya. Syukurlah hanya ibu yang bangun. Kalau sampai sekeluarga berkumpul menemuiku malam ini, mereka pasti dalam bahaya. Kutahan kuat-kuat hasratku dan segera berlari meninggalkan rumah. Aku terhenti di jalan di depan rumahku. Napasku tersengal dan keringatku menetes. Aku nyaris mencekik leherku kalau laki-laki keparat itu nggak datang.

“Sudah kukatakan, keluargamu dalam bahaya. Jika kamu terus-menerus menemui mereka, cepat atau lambat kamu pasti akan membunuh mereka bahkan meski kamu tidak berniat begitu. Lagipula kamu diburu utusan pemerintah vampir!” katanya berdiri di belakangku. “Kau sudah meracuniku!” tukasku melotot padanya. Laki-laki itu hanya menyeringai tipis. “Kau kira aku mau menolongmu begitu saja saat itu? Kalau aku mengabaikanmu, tentu kau tidak akan bertemu dengan keluargamu lagi selamanya. Keberadaan kita harus dirahasiakan dari siapapun, kalau sampai ketahuan bisa-bisa mereka menemukanmu dan membunuhmu.”

Aku…. Harus bersyukur atau mengeluh? Padahal semua ini nggak akan terjadi! Benar, ini semua gara-gara tiket konser gratis. Aku sampai memiliki rahasia mengerikan begini. Bahkan sekarang aku sampai harus petak umpet dengan mereka…..

Sore yang masih lembap oleh hujan yang sudah reda. Kubangan di mana-mana tidak mengurangi kesenangan di bawah langit yang masih mendung. Suara renyah dari konser band baru yang terkenal tampan-tampan membahana hingga siapapun yang melintasi taman ini dan melihat mereka akan segera membeli tiket dan bergabung denganku dan Diana.

Aku gadis SMU biasa bernama Anastasia Gracia Wirawan yang beruntung menang tiket gratis ikut syuting konser band terkenal Fly Four di taman ini. Bersyukur sekali aku karna hujan reda sebelum konser ini dimulai. Aku kurang suka berdandan, makanya aku tetap tampil biasa di antara gadis-gadis dan wanita dewasa yang mengenakan dress, high heels, boots, atau flat shoes andalan mereka, juga aksesori dan perlengkapan fashion lainnya. Aku sudah mual duluan melihat kosmetik yang mereka pakai demi menarik perhatian anggota Fly Four.

Jeritan mereka makin menghebohkan konser yang sudah meriah oleh nyanyian dan bunyi keras alat-alat musik, tapi menurutku nggak mengganggu selama mereka nggak meliar aja. “Fly Four keren abiiss!! Lihat sini dong!” pekik Diana dengan cengir lebarnya. Padahal aku sudah bisa menikmati konser ini. Sayang. Hancur di tengah-tengah.

Mood-ku langsung rusak begitu aku memergoki pemegang keyboard Fly Four menatapku tajam. Seolah dia mengawasi pencuri. Aku baru ingat namanya memang aneh, Dermawan Rocco Yusalim. Tapi diluar dugaanku kalau sifatnya juga aneh. Bahkan sampai konser berakhir, cowok itu masih saja tembak tatapan ke aku.

Aku jadi nggak bisa menikmati konser gratisku kan!! Huuh! Nyaris aku mengumpat kalau lupa Rocco Ndorocco ini yang paling ganteng dan paling banyak fansnya di Fly Four! Males amat kena serbu fansnya. “Kamu kenapa sih, Grace?! Kebaca banget lagi brokenmood!” tegur Diana yang asyik menjilati es krimnya.

“Gimana nggak brokenmood kalo udah asyik sama konser jadi bete gara-gara dilihatin mulu sama Rocco Ndorocco itu kayak aku pencuri aja!” jawabku kelepasan. Dalam sekejap para kaum hawa pengagum Rocco mendelik pada kami. Diana segera mengalihkan topik, “Oh! Si ganteng bertangan jagoan itu ya?? Emang dia main keyboard-nya keren banget kaan!”

Begitu serbuan pedas fans Rocco itu bubar, langsung kulempar terimakasih pada Diana yang sudah selamatkan suasana, juga aku. “Kamu nih, jangan asal ceplos gitu dong!” geram Diana begitu kami sudah pindah tempat agak jauh dari taman tempat konser Fly Four. Aku berbisik, “Maaf, maaf. Habis emang bener begitu. Jadi bete kan!”

“Gara-gara harus lari cari tempat jadi koar-koar kan, tenggorokanku! Beli minum dulu deh, kamu mau apa?” omel Diana sambil menawariku. Baiknya sahabatku ini!

“Apa aja yang ada, pokoknya bisa diminum,” jawabku malas mikir. Diana berjalan pergi entah ke mana. Aku menunggu sambil duduk di kursi halte bus dekatku. Seorang cowok keren berjalan menghampiriku. Aku kaget begitu dia menarikku dan memamerkan giginya yang seperti taring vampir. “Hentikaan!!” pekikku mendorongnya ketakutan. Makhluk gila itu nyaris menggigit leherku.

Aku segera berlari ke manapun aku bisa bebas dari kejaran makhluk kelaparan itu. Pikiranku benar-benar kacau dan aku berlari tanpa mempedulikan arah yang kutuju. Cowok itu masih terus mengejarku, bahkan dia makin cepat! Padahal aku sudah berlari cepat sekali, tapi dengan mudah cowok itu menangkapku.

Aku terus melawan; memukul, mencakar—untung kukuku belum kupotong—wajahnya, menendang, pokoknya seluruh badanku kugunakan untuk menyerangnya.

“Tampaknya kamu akan mati disantap makhluk rendahan ini. Sayang sekali kan? Padahal kamu memiliki kelebihan yang hebat. Bagaimana kalau kubunuh makhluk ini untukmu?” bisik Rocco tiba-tiba muncul di belakangku. “A, apa?! bunuh?!” seruku kaget. Nggak cowok liar ini, nggak Rocco, mereka sudah sama-sama gila!!

“Cepatlah, sebelum dia membunuhmu! Tapi kau harus mengabulkan satu syaratku!”

Aku benar-benar nggak bisa memikirkan apa-apa, hingga akhirnya iblis menguasaiku. “Baik! Bunuh saja dia!”

Saat itu juga Rocco Ndorocco itu membunuh cowok bertaring itu. Adegan pertarungan vampir yang biasa kulihat hanya dalam film kini terjadi tepat di depan mataku. Kekuatan yang muncul dari tangan, cakar-cakar dan taring-taring yang bergoyang, wajah haus darah itu, semua membuatku nggak mampu berkedip.

Nggak sampai setengah jam, Rocco Ndorocco ini sudah menghabisi cowok bertaring yang memburuku tadi. Dan dia sendiri ternyata juga memiliki taring yang tadinya hanya gigi manusia biasa itu. “Kalian ini…. Apa?” tanyaku masih gemetaran. Tapi aku bisa berdiri tegak.

“Kami ini makhluk legenda yang dipuja-puja manusia itu. Ada kan? Dalam film, novel, komik, dan karya-karya lainnya…. Kau pasti berpikir kalau vampir hanya makhluk fiksi kan? Sayangnya tidak,” jawab Rocco menyeringai. Jadi karena itu dia menatapku tajam lama sekali? “Hei, kenapa kau merusak mood-ku dengan tatapan tajammu tadi?”

Rocco mengibas-ngibaskan tangannya. “Karena kamu punya kelebihan yang hebat bagi vampir, Grace.”

Setelah itu aku tak ingat apa lagi yang terjadi, tapi sekarang kutemukan diriku terbaring di tempatku bicara dengan Rocco setelah sadar dari pingsanku. Aku bahkan nggak ingat kalau aku pingsan. Aku beranjak berdiri dan Diana sedang mencari-cariku. Saat itu kusadari diriku mulai mengalami perubahan yang buruk.

“Kamu ngapain aja sih, Grace?! Kucari-cari, nggak ada!” omelnya sambil menyodorkan gelas berisi jus jeruk padaku. Aku langsung menghabiskannya karena tenggorokanku terasa sangat kering dan panas. Tapi gejala aneh itu nggak lenyap. Hidungku tiba-tiba menangkap bau harum dari Diana. “Kamu pakai parfum, Di? Harum banget!” gurauku dengan kepala pusing dan tubuh lemas.

“Haah? Ngawur aja. Ngomong-ngomong mukamu pucat banget lho. Kulitmu juga jadi…. Kamu kenapa, Grace?” Diana kaget sekaligus keheranan. Kuangkat kedua tanganku dan kulihat baik-baik. Warna kulitku menjadi lebih putih memucat dibanding sebelumnya. Bahkan warna kakiku juga. Aneh sekali, padahal tadinya warna kulitku kuning kecoklatan.

“Lho? Kenapa bisa jadi begini? Jangan-jangan aku kena kelainan kulit?!”

“Tenang, Grace! Nanti coba aja periksa ke rumah sakit.”

Aku mengangguk setuju. Kutatap Diana lekat-lekat. “Kenapa ya? Rasanya dari tadi aku nyium bau harum dari badanmu.”

“Haah?? Aneh-aneh aja. Sudah, ayo pulang!” ajak Diana yang berjalan mendahuluiku.

Di rumah pun, aku mencium banyak bau harum dari keluargaku. Baunya membuatku ingin menggigit mereka. “Gigit?” gumamku kaget begitu kata itu muncul dalam pikiranku. Aku nggak yakin, tapi semua gejalaku menunjukkannya.

Aku keluar dan mencoba melompat ke dahan tertinggi pohon mangga di tamanku. Dan mengejutkan! Hanya sekali lompat, aku sudah bisa meraih dahan itu dan duduk padanya. Gejala yang biasa kutemukan dalam film, novel, dan karya-karya lain yang menceritakan vampir. Aku baru sadar, kalau Rocco sudah mengubahku menjadi vampir. Saat itu ingatanku berputar balik, dan kronologi aku menjadi vampir menyeruak masuk hingga kepalaku terasa sakit sekali. Aku ingat, Rocco memberiku minum darahnya. Setelah itu aku pingsan karena darah yang benar-benar menjijikkan di lidah manusia itu.

Ya, inilah rahasia baruku. Aku takut. Aku takut akan membunuh keluarga dan teman-teman yang sangat kusayangi. Aku harus pergi dari mereka. Karena itu aku memutuskan untuk ikut dengan Rocco saja. Aku sudah menjadi vampir pelayannya, aku yang sekarang lahir dari darahnya.

Rumahnya hanya dihuni dirinya sendiri dan kakaknya yang chef handal, Vivi. Katanya kedua orangtua mereka mati dibunuh mereka yang mengincarku. Saat itu timbul pertanyaan, “Mereka siapa yang mengincarku?”

Rocco menjawab, “Utusan pemerintah vampir…. Mereka memburumu karena kamu punya hubungan darah dengan vampir kriminal kelas berat yang lama hilang. Ada utusannya yang menemukan keberadaanmu.”

“Kenapa kamu bisa tahu itu?”

“Karena aku sempat bertemu mereka dalam pesta malam vampir. Dan mereka membicarakannya. Menurutku kamu punya kelebihan yang hebat karena vampir kriminal itu termasuk ditakuti.”

Ucapan itu menyadarkanku. “Jadi kamu memanfaatkanku?”

“Aku akan memperlakukanmu sebaik-baiknya.”

Aku sangat kesal dan memutuskan meninggalkan Rocco. Tapi dia menolongku lagi saat aku diserang vampir lain dan aku belum bisa bertarung. Dia membawaku ke rumahnya, saat itu Vivi kakak perempuannya, sudah pulang. Vivi sangat baik dan hangat, penampilannya benar-benar manis tapi dewasa. Berbeda jauh dengan Rocco Ndorocco yang ganteng tapi menyebalkan itu. Saat Rocco keluar, Vivi bercerita padaku bahwa Rocco berniat membebaskan kakek mereka yang ditahan oleh pihak pemerintah vampir karena jebakan dari salah satu menteri vampir. Karena itulah Rocco mencariku dan menjadikanku vampir untuk meminta bantuan kekuatanku.

Padahal kupikir Rocco sudah cukup kuat. “Meski kuat, tapi dia akan segera melemah setelah menggunakan tenaganya sampai batas maksimal. Rocco memang kuat, tapi tubuhnya mengalami kelainan langsung muntah darah dan seluruh uratnya berdenyut-denyut setelah menggunakan kekuatannya berlebihan. Kalau sudah begitu, dia pasti pingsan kalau tidak segera diberi darah,” kata Vivi resah.

Vivi mencemaskan Rocco. Karenanya meski Rocco tak keberatan memberi hidupnya sebagai ganti membebaskan kakek mereka, Rocco memilih mencariku supaya ia tak perlu meninggalkan Vivi dalam penderitaan ditinggal adiknya. Tapi aku tetap marah dan membenci Rocco, karena dia merebutku dari sisi keluarga dan teman-temanku.

Ya, aku sudah menjenguk keluargaku. Syukurlah aku bisa kendalikan hasrat haus darahku meski baru bisa sedikit. “Ayo, pulang. Nanti utusan pemerintah menemukanmu,” ajak Rocco yang berjalan duluan. Sekarang aku mengerti kenapa Rocco sampai jadi yang paling populer dari semua anggota Fly Four. Karena dia vampir. Dan dia menatapku tajam di konser itu karena aku orang yang dicari dan diperlukannya.

“Rocco, aku boleh minta sesuatu?” tanyaku menyusulnya. “Apa?” sahut Rocco melirikku. Aku mengatakannya, dan aku sama sekali nggak menyangka dia mengabulkannya. Padahal dia kelihatan benci bertemu banyak manusia setiap hari. Esoknya aku pulang ke rumah. Rocco dan Vivi segera menjadi tetangga baruku hari itu. Sekolahku yang kedatangan Rocco-nya Fly Four jadi heboh luar biasa, tapi syukurlah Rocco punya cara membuat para kaum hawa nggak merusuhinya.

“Kenapa kamu sampai menghilang 2 bulan?? Aku takut banget, tahu!” seru Diana segera mengintrogasiku. Sandro menyahut, “Iya, sejak konser itu. Padahal kamu hilang gara-gara angin topan di taman konser itu, tapi bisa-bisanya nggak ada yang memberitakannya!”

Aku meringis. “Memang aneh kecelakaan begitu nggak ada yang menyiarkan. Tapi aku diselamatkan Rocco.”

Tentu saja tidak ada berita yang menyiarkannya, karena aku sudah minta Rocco Ndorocco untuk mengatur ingatan teman-teman dekat dan keluargaku dengan kekuatannya. Saat aku menikmati kembalinya keseharianku yang biasanya, aku menahan sulitnya tidak minum darah dan menggigit orang-orang di sekitarku. Tiba-tiba kulihat ada seorang vampir di luar jendela kelasku. Dia menyeringai. Rocco segera berbisik padaku, “Petak umpetnya dimulai!”

Gawat. Sepertinya aku harus cepat-cepat mempelajari cara vampir mengatur ingatan manusia. Aku dan Rocco segera berlari meninggalkan sekolah setelah Rocco mengatur ingatan teman-temanku. Salah satu utusan pemerintah vampir sudah menemukanku dan aku harus kabur terus bersama Rocco sampai aku cukup mampu buat bertarung. Ya, petak umpet ini kayaknya hanya akan berakhir kalau kami mengalami pertarungan puncak dengan pemerintah dan utusan vampir. Entah kapan petak umpet ini berakhir.

Cerpen ini dikutkan #tantangannulis @jiaeffendie di sini

My Best Heroes In The World

Siapa pahlawan terbaik?10730831_964876690205559_2989809364970803266_n

Bagiku,pahlawan terbaik dan terhebat di dunia adalah orangtua.

Ya,orangtua memiliki prestasi terbesar dan terhebat dengan setia merawat,mengasihi,mendidik,dan membesarkan anaknya.

Mereka memiliki cara sendiri-sendiri untuk menciptakan manusia hebat,baik,berkualitas,dan beriman sesuai agamanya masing-masing.

Orangtua adalah hadiah dan anugerah terindah dari Tuhan,mereka tetap setia pada anaknya meski anaknya banyak mengabaikan,mencela,malas membantu,merepotkan,dan menyusahkan mereka.

Orangtua adalah manusia terhebat dan ajaib yang memiliki cinta tulus dan sejati bagi semua anak di dunia.

Merekalah yang pertama kali mencemaskan kita saat pulang terlambat tanpa kabar atau jatuh sakit.

Merekalah orang yang pertama kali mencintai kita dan cinta pertama kita.

Mereka yang membantu kita hadir di dunia dan membuat kita bisa menikmati semua yang sudah kita dapatkan selama ini.

Merekalah pahlawan sejati,tiada duanya.

Mereka tak pernah tega mengabaikan dan melepas anaknya begitu saja.

Merekalah keluarga sekaligus sahabat sejati setiap orang yang pernah ada.

Kenangan bersama orangtua tak akan tergantikan oleh apapun.

Jasa,cinta,kebaikan dan ketulusan orangtua tidak bisa disetarakan oleh apapun.

Tidak semua orangtua bisa memberi anak-anak mereka kemewahan dan segala yang diinginkan sang anak,namun mereka memberi anak-anak mereka sesuatu yang berlipat-lipat jauh lebih baik,yaitu cinta dan kebaikan mereka.

Orangtua orang pertama yang setia menghibur,menyemangati,dan menemani kita disaat duka.Saat suka pun,mereka selalu menemani kita.

Orangtua selalu memikirkan dan memilihkan semua hal yang terbaik untuk anak mereka,termasuk dalam pergaulan dan pendidikan.

Orangtua tak pernah mengharapkan apapun dari anaknya,mereka hanya ingin melihat anaknya bisa menjadi seorang yang sukses,baik hati,hebat,berkualitas,dan taat Tuhan.

Orangtua selalu siap dan selalu ada untuk menerima kembalinya anak mereka dalam keadaan jatuh maupun gagal.

Meski si anak sering menyakiti hati orangtua,namun orangtua selalu mengusahakan kebaikan anak.

Meski peluh dan tangis berderai dari mereka,namun mereka selalu mendoakan senyum,tawa,dan kebahagiaan selamanya untuk anak-anak mereka.

Orangtua tak menuntut banyak hal dari anak.

Orangtua selalu menjadi malaikat tanpa sayap bagi anak-anaknya.

Cinta dan kebaikan hati orangtua akan senantiasa melindungi dan menyertai anak-anaknya sepanjang masa.

Orangtua selalu berjuang dan bekerja keras demi anak-anak mereka.

Orangtua tak pernah mengkhianati anaknya.

Orangtua rajin mendoakan anak-anaknya yang terbaik.

Di sisi orangtua adalah tempat terbaik,aman,dan nyaman bagi setiap anak.

Semoga semua pahlawan keluarga ini selalu dilindungi dan dibantu Tuhan dalam suka maupun duka mereka melawan kejamnya kehidupan dan membesarkan anak-anak mereka.

The Follower

Gambar

Besok sudah mulai liburan panjang,maka malam ini Andi begadang sambil twitteran.

Dia mentionan dengan Riki dan Ujang.

Jam 12 malam tepat tiba.

Andi membaca mention balasan Ujang yang ketujuh,dan tiba-tiba muncul mention dari orang tak dikenalnya.

Follower barunya,nama akunnya “Pelita”

Isi mentionnya:”Follow back,dong”

Andi memfollownya,lalu muncul mention dari Riki yang pamitan mau offline karena sudah mengantuk.

Andi membalas mention Ujang barusan dan menunggu mention balasan untuknya.

Tapi muncul mention baru dari akun Pelita.

“Thanks,ya sudah difollow back.Sekarang maukah kamu jadi pacarku?”

Andi coba melihat ava Pelita,wajahnya sangat manis seperti bule.

Dibalasnya:”Mau aja”

Tiba-tiba ada bunyi-bunyi berisik dari dapur.

Andi menduga itu adalah tikus-tikus rumah mereka yang mau cari makan.

Ia keluar dari kamarnya untuk mengusir mereka.

Tiba-tiba didepannya ada sosok perempuan berpakaian seragam sekolahnya dengan membawa pelita.

“Kamu sudah jadi pacarku,ayo ikut aku sekarang.Follow kematianku” kata Pelita lirih dengan wajah rusak dan dada kiri berdarah-darah yang diterangi pelita bawaannya.

You’re Me and I am You

Image

Aku baru tahu kakak punya sebuah boneka aneh.

Boneka perempuan,sudah sejak lama.Tapi aku tidak menyukainya.

Bola mata boneka itu menakutkan.

“Boneka ini,kan adikku,Sabrina” kata kakak tiap aku mengejek boneka itu atau mendesaknya untuk membuangnya.

Memang cantik,rambutnya ikal panjang berwarna pirang keemasan berkilau dan pakaiannya lolita dress.

Tapi kedua bola matanya seolah ingin menikamku.

Malam ini terdengar bunyi ribut-ribut,padahal baru kemarin papa memasang jebakan tikus.Dari dapur.

Aku menangkap sosok yang paling kubenci begitu aku menyalakan lampu dapur.Dan boneka itu segera melompat,melompat dan hendak menusukku dengan pisau yang baru didapatnya!!!!

Mulutnya menjadi penuh darah.

Aku harus membunuhnya!Membunuh boneka sadis yang berniat memotongku sebelum dia membunuhku!!!!

“Papa!Mama!Kak Danny!!” jeritku sekuat tenaga.

Aku berebut pisau dengan boneka licik itu,tapi aku berhasil merebut pisau itu darinya.

“Ada apa,sayang!” pekik mama datang bersama papa dan mama.

“Boneka ini!Dia mau membunuhku!” pekikku mengangkat pisau itu keatas dan hendak kudorong menembus boneka kejam itu!

“Jangan,Sabrina!!” pekik mama,papa,dan kak Danny.

Terlambat.Aku telah memberikan sakit terdalam pada boneka ini.

Senyumku mengembang,disusul perutku yang bersimbah darah.

Lukaku sama dengan luka yang kuberikan pada boneka itu!Apa!Bagaimana mungkin?!Aku bahkan tidak tertusuk apapun!!

“Makanya,sudah kubilang bahwa boneka ini adalah adikku,kan Sabrina” kata kak Danny mengambil dan memeluk boneka itu sama dengan caranya memelukku.

“Kenapa kamu tidak mau mendengarkan kami?” tanya mama menangis.

“Sekarang kamu membunuh dirimu sendiri” kata papa dengan wajah tersedihnya.

Sambil menggeliat-geliat memegangi perutku yang masih memuntahkan darah,kulihat boneka itu perlahan berkata padaku,”Sekarang kau mengerti,kan?Bahwa kau adalah aku,dan aku adalah kau!”

Apa?Siapa aku sebenarnya?