Jasa dan Dosa

JASA DAN DOSA

“Ternyata benar, ya kamu cucu dari ‘Pahlawan yang Berdosa’ itu?” mereka tertawa dengan nada yang begitu menusuk Bella. Mulut tajam yang melontarkan kalimat busuk itu rasanya begitu menggoda Bella untuk mencabik- cabik mereka, tapi demi keluarganya ia berusaha keras menahan dirinya.
Walau menyandang status sebagai seorang cucu dari pahlawan yang namanya cukup dikenal media dan masyarakat, tapi Bella sama sekali nggak merasa bahagia atau tersanjung. Dia selalu membenci beliau, padahal kakeknya pernah menggendongnya dan menurut cerita mamanya beliau menggendong Bella dengan senyum dan tatapan yang lembut.
Bella benci karena kakeknya disorot pernah melakukan dosa dengan membunuh temannya yang juga bergelar pahlawan dan menurut gosip disebabkan oleh uang. Meski kedua orangtuanya telah menjelaskan bahwa semua itu hanya salah paham, tapi Bella tetap tidak percaya tanpa bukti yang masuk akal.
Berkat kejadian itu Bella tidak hanya membenci almarhum kakeknya, tapi juga membenci media massa yang lebih menyorot satu kesalahan seseorang dibandingkan sejuta jasa seseorang. Gadis itu hanya menghela napas lega melihat teman- teman brengseknya sudah pergi dan ia melangkah pulang dengan berat.
“Bella sudah pulang ya?” sambut mama dengan senyum hangatnya. Walau hangat, tapi tak mampu menyembuhkan luka hati Bella yang sudah menumpuk dan terus bertambah selama bertahun- tahun sejak dirinya masih SMP. “Ada apa? Kenapa mukamu sedih begitu, Bella?” tanya papa yang mengalihkan perhatian dari korannya pada putri bungsunya itu.
Mana bisa Bella mengatakannya secara terus terang? Luka hati yang terus menerjangnya karena hinaan kejam yang disebabkan oleh almarhum kakeknya sendiri. “Nggak apa- apa. Cuma pusing,” gumam Bella membuang tas ranselnya ke atas sofa di hadapannya.
“Oh, syukurlah. Apa kamu hari ini sibuk?”
“Nggak juga…. Kenapa?”
“Nanti sore kita ke makam kakekmu, ya. Kita tunggu Marsya pulang dulu.”
Emosi Bella meledak dan ditumpahkannya pada kedua orangtuanya.
“Kenapa sih papa juga mama begitu mencintai kakek yang sudah berdosa itu?! Dosanya besar! Membunuh orang! Terlebih korbannya temannya sendiri! Meski kalian berdua bilang kalau kakek nggak bersalah, tapi papa atau pun mama nggak punya bukti yang mendukung kebenaran tolol kalian itu kaan?!”
“Bella! Jaga bicaramuu! Kakekmu itu benar- benar nggak bersalah dan kenyataannya semua itu hanyalah salah paham belaka! Bahkan papa berani bersumpah kalau beliau memang bukan penjahat!”
“Masa bodoh! Pokoknya aku nggak mau ikuuut!! Gara- gara orang itu juga kan aku jadi bisa melihat hal- hal yang seharusnya nggak kulihaat!”
Braaaak! Bella pergi dan membanting pintu rumahnya. Ia berlari sekuat tenaga, sejauh mungkin, sampai ia tidak akan ditemukan oleh orang- orang yang dikenalnya dan mengenalnya. Saat berlari, semua kenangan perihnya yang ditimpa ocehan- ocehan keji dari teman- teman mau pun gurunya terputar kembali dalam kepalanya secepat ia berlari ke tempat yang tersembunyi.
Ia berlabuh di taman umum yang sudah lama tak dikunjungi jika menjelang sore karena letaknya yang bersebelahan dengan makam. Tangisnya pecah. Sakit. Bagai diiris pisau sampai menjadi serpihan- serpihan tak berdaya. Bersamaan dengan itu, hujan mengiringi tangisannya.
Semua kenangan yang berhubungan dengan kakeknya pun muncul. Terutama saat ia dapat melihat masa depan seseorang berkat kemampuan aneh yang diwarisi dari kakeknya tersebut. Ia baru bisa berhenti menangis begitu hujan reda dan matahari muncul kembali. Bella memutuskan untuk ke sekolah lagi.
Ternyata di lapangan sekolahnya sedang diadakan latihan pelaksanaan upacara untuk hari pahlawan besok lusa. Tiba- tiba kedua matanya tertarik oleh sosok seorang cowok yang dengan gagah dan keren berlatih memimpin upacara. Suaranya begitu lantang dan tegas, tapi juga sangat lembut seperti suara malaikat.
Tiba- tiba cowok itu menoleh ke arah Bella. Buru- buru Bella mengalihkan pandangannya supaya tidak dicurigai, tapi ia salah mengalihkannya pada kucing liar yang sedang buang kotoran dan tanpa sengaja sepatunya menginjak kotoran yang baru saja dikeluarkan kucing itu.
“Huuuuwaaaaaa!!” jerit Bella merasa jijik dan geli. Ia berlari mencari keran air untuk mencuci sepatunya, tapi tanpa sengaja ia justru menabrak cowok yang membuatnya terpesona tadi. “Aduuh! Ma, maaf!” seru Bella buru- buru membungkuk. “Nggak apa- apa kok” balas cowok itu.
Ia justru tampak mencemaskan sepatu Bella yang sudah berwarna kotoran itu. “Hei, kaamuu! Jangan sembarangan masuk area lapangan doong! Ini latihan yang penting!!” tegur pak Tio, guru yang terkenal galak. “Ma, maaf, Paak!” sahut Bella langsung lari menuju kamar mandi cewek.
Setelah sepatunya bersih, ia kembali memperhatikan latihan upacara yang berlanjut kembali itu. Sosok cowok yang memimpin itulah yang paling menguasai perhatiannya, dan Bella jadi penasaran mau kenalan, tapi dia malu kalau harus terang- terangan tanya namanya.
Latihan itu baru selesai jam 5 sore. “Sepatumu bisa bersih?” terdengar suara lembut yang tegas itu. Beruntung sekali dia yang menyapa Bella duluan! Hatinya berdebar- debar dan mulutnya jadi sulit dibuka karena ternyata dari dekat wajah orang itu bagaikan model lukisan barat.
“Be, bersih kok” gumam Bella berusaha keras tidak mempedulikan wajah dan suara cowok itu. “Oh, baguslah. Karena sepatumu putih, kalau kotor pasti sayang sekali. Warnanya sama dengan bagian bawah bendera Indonesia,” katanya tersenyum. “Eng…. Kamu suka warna putih?” tanya Bella.
“Tentu. Warna merah dan putih yang melambangkan negara ini, kesannya berani tapi suci,”
“Maaf kalau aku menyimpulkan seenakku, tapi sepertinya kamu sangat mencintai negara ini ya?”
Dia terdiam sejenak dan pandangannya teralih lurus ke depan. Tak lama pandangannya kembali ke arah Bella di sampingnya.
“Kamu tahu? Aku sangat menghormati para pahlawan yang sudah mengubah nasib negeri kita ini, dan tentu saja aku sangat mencintai negara ini. Tapi aku juga sedih melihat dan mendengar korupsi dan kriminalitas yang masih menghantui Indonesia, juga orang- orang yang merusak kekayaan alam di sini,”
“Memang…. Sangat menyedihkan,”
“Bukan hanya menyedihkan, tapi juga mengecewakan. Aku sampai bertekad, akan kubuat orang- orang seperti itu hancur dan malu karena perbuatan mereka sendiri!”
Cowok itu mengatakannya dengan nada yang tegas dan tatapan yang tajam memburu, sampai membuat Bella kehilangan kata- kata dan merinding. “Tapi mana mungkin kaan?” kata cowok itu tersenyum riang. “Haah?” seru Bella kaget melihat perubahan ekspresi yang jauh sekali itu.
“Jangankan memberantas orang- orang seperti itu, mengurus diriku dan mendapatkan pekerjaan yang aman saja aku belum tentu bisa. Maaf ya aku terlalu banyak bicara, padahal kita belum saling kenal” katanya tersenyum lembut. “Ah, benar juga. Namaku Bella dari kelas X- A, kau?” kata Bella memperkenalkan diri.
“Namaku Radi dari kelas X- B. Ternyata kelas kita bersebelahan ya” gumamnya. “Iya. Ngomong- ngomong tadi kamu semangat sekali ya berlatih untuk persiapan upacara besok lusa” kata Bella tersenyum.
“Tentu saja! Aku sangat suka upacara, terutama untuk hari pahlawan!”
“Begitu? Kalau aku benar- benar benci upacara. Terutama hari pahlawan.”
“Lho? Kenapa? Padahal menyenangkan sekali menumbuhkan jiwa patriotisme dan naluri kepahlawanan masing- masing individu.”
“Ada lho yang justru menderita karena pahlawan yang sangat kamu kagumi itu berulah.”
“Apa maksudmu?”
Bella menghela napas dan terdiam sejenak. Kebahagiaannya dapat berbicara dengan Radi sirna seketika begitu teringat kakeknya lagi.
“Lupakan saja. Siapa pahlawan yang paling kamu sukai dan jadi motivatormu?” tanya Bella. “Oh! Aku paling suka almarhum Heru Raviani!” seru Radi antusias.
“Yang benar sajaa!!” pekik Bella secara tak sadar. Ekspresi bingung Radi menerima ucapan seperti itu baru menyadarkannya. “Ma, maaf. Tapi ketahuilah sebenarnya Heru Raviani itu lebih ‘berdosa’ dibandingkan ‘berjasa’” gumam Bella beranjak berdiri. Radi mengangguk tanda ia paham.
“Aku tahu, Bella. Tapi aku merasa ada keganjilan akan dosanya, seperti ada sepenggal kebenaran yang dikubur dalam- dalam tanpa ada yang tahu. Aku mau mencoba mempercayai beliau yang sudah turut membebaskan negeri yang indah ini dari penjajah, dan menemukan kebenaran yang tenggelam oleh waktu tersebut,” ujar Radi. Dia begitu optimis dan menghormati kakek Bella.
Pasti akan jauh lebih baik jika Radi saja yang menjadi cucu dari Heru Raviani dan bukan Bella, supaya jiwa kakeknya pun tidak sengsara karena dibenci dan tidak dipercayai oleh cucunya sendiri. “Hei, Bel. Kenapa tadi kamu bicara seolah- olah kamu mengenalnya? Apa kalian ada hubungan?” tanya Radi.
Bella segera melotot kaget diterjang pertanyaan seperti itu. “Yah, aku kan pernah membaca sedikit riwayat hidupnya dari internet,” jawab Bella sambil tertawa. Setelah pembicaraan itu, mereka pulang ke rumah masing- masing. “Puas kamu? Kita batal ke makam kakek hari ini, padahal mama sudah beli bunga,” sambutan yang sungguh menepis kelegaan Bella setelah bicara dengan Radi dari papa.
“Sudahlah, pa. Besok kan masih bisa,” gumam mama mencairkan suasana. “Ya…. Pokoknya besok kita semua harus ke makam kakek dan mendoakannya di sana. Kamu paham, Bel?” kata papa dengan tatapan memaksa Bella mengiyakannya. “Aku paham, pa” sahut Bella menghembuskan napas kalah.
Papa berjalan masuk ke kamar dan menutup pintunya. “Kamu jangan marah ya sama ucapan papa tadi begitu kamu pulang. Papa mengucapkannya karena sangat mencemaskanmu kok,” kata mama tersenyum. Bella hanya mengangguk lalu masuk ke kamarnya dan tidur.
Esoknya di sekolah, saat pelajaran bahasa Indonesia kelas Bella dapat tugas untuk menulis ringkasan biografi dari seorang pahlawan, yang nantinya juga akan masuk nilai tugas sejarah. Begitu istirahat, Bella ke perpustakaan untuk meminjam buku biografi pahlawan.
“Radi? Sedang apa?” tanya Bella begitu melihat Radi yang duduk di pojokan menyendiri dengan tumpukan buku biografi pahlawan. “Aku kemarin dapat tugas meringkas biografi pahlawan, jadi sekarang aku cari bahannya,” jawab Radi tersenyum. “Sama ya. Kalau aku baru tadi dikasih tugas ini,” kata Bella duduk di depan Radi yang kosong.
Bella terpana melihat judul biografi yang dipegang Radi mencantumkan nama kakeknya. “Kamu sangat suka ya?” tanya Bella sambil menunjuk buku yang dipegang Radi. “Benar. Menyenangkan lho membaca tentang orang atau sesuatu yang kita sukai!” sahut Radi.
“Aku sama sekali nggak mengerti kenapa kamu sangat mengaguminya, padahal selain jasa dia juga berdosa besar dengan membunuh temannya kan….” Bella buru- buru menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya begitu tanpa sengaja terucap apa yang paling dibencinya dari kakeknya.
“Benar saja kan kalau kamu tidak suka sama Heru Raviani? Padahal kamu cucunya, tapi malah membencinya. Aku juga tidak mengerti kenapa kamu sangat membencinya, padahal jasanya juga sangat besar pada banyak orang dan negara kita ini.”
“Kenapa kamu bisa tahu?”
“Aku kan ikut ekstra jurnalistik. Mudah saja mendapatkan nama lengkapmu, dan ternyata tercantum marga ‘Raviani’.”
“Maaf, aku nggak segera mengatakannya padamu, Radi. Tapi aku selalu diejek oleh teman- teman dan ada guru juga, karena aku ini cucu seorang pahlawan yang berdosa dengan membunuh temannya sendiri yang juga pahlawan. Aku nggak mau kamu juga nantinya mengejekku, atau jadi malu karena berteman denganku.”
“Dasar bodoh! Mana mungkin itu terjadi kan? Sejak SD sampai sekarang aku tetap menghormati Heru Raviani, jadi untuk apa aku membencinya ataupun cucunya? Justru aku merasa kamu sangat beruntung menjadi cucu pahlawan, kamu bisa mewarisi bakatnya menyelamatkan negara dan semua orang.”
“Kamu salah, Radi. Nggak ada bukti kuat yang dapat membebaskan kakekku dan keluarganya dari hinaan ‘Pahlawan Berdosa’ juga ‘Keluarga Pahlawan Berdosa’. Tapi ada bukti kuat yang membuat kakekku dan kami keluarganya jadi bergelar sebodoh itu dimata orang- orang.”
Radi terdiam dan menghela napas mendengar bantahan Bella itu. Lalu ia berjanji akan menemukan kebenaran dari kasus dosa besar kakek Bella itu sebelum pergi dari perpustakaan. Bella hanya diam membatu dan menganggap janji Radi itu hanyalah omong kosong, dia pasti menyerah begitu orang- orang menuduhnya telah mengada- ada saja. Tapi dalam hatinya, entah kenapa Bella percaya kalau Radi serius.
Sesampai di rumah sebelum ke makam kakek, Bella disuruh mama untuk membantu membersihkan dan membereskan gudang yang sudah muntah barang- barang bekas dan tak terpakai lagi. “Ma, sebelah sana sudah aku sapu lho,” lapor Bella dengan harapan segera dibebaskan dari tugas bersih- bersih itu.
“Kalau begitu sekarang sapu yang bagian belakang lemari coklat itu yaa!” seru mama yang sibuk mengumpulkan benda- benda yang akan dibuang karena sudah rusak. Sambil berceloteh kesal, Bella mendorong lemari coklat itu ke depan supaya ia bisa menyapu kotoran dan debu- debu di lantai itu.
Tanpa sengaja ujung kaki kanannya menabrak sebuah buku tua yang sudah berdebu dan ada beberapa bagiannya yang sobek. Diambilnya buku berwarna merah itu, warna yang disukai almarhum kakeknya. Perlahan- lahan Bella membukanya dan memperhatikan isinya.
Ada selembar foto seorang laki- laki menghambur- hamburkan uang yang cukup banyak dengan gembira, dan ada catatan harian yang ditulis oleh kakeknya. Meski sudah sangat lama tidak melihatnya, tapi Bella masih ingat dengan segar jenis tulisan dari tangan kakeknya itu.
“Bella, kenapa bengong? Jangan lama- lama, soalnya kita juga harus ke makam sebelum maghrib!” tegur mama. Bella yang tadinya terlonjak kaget setelah membaca isi catatan harian itu segera melanjutkan pekerjaannya, dan disimpannya buku itu didalam kantong celemeknya.
Setelah mengunjungi dan mendoakan almarhum kakeknya di makam kakeknya, Bella segera mendiskusikan buku itu dengan keluarganya. “Cepat serahkan bukti itu pada polisi, Bella! Bersihkanlah nama baik keluarga kita!” suruh papa setelah mereka berdiskusi. Bella mengangguk dan segera pergi.
Tapi dia tidak segera ke kantor polisi, dia justru menemui Radi yang masih berlatih untuk persiapan upacara hari pahlawan nanti. “Ada apa, Bella?” tanya Radi. “Aku menemukannya! Aku menemukannya, Radii!!” seru Bella senang bukan kepalang. Radi melongo bingung mendengarnya.
“Ini bukti yang akan membuatmu semakin mempercayai kakekku,” kata Bella menyodorkan buku itu pada Radi. Setelah melihat sekilas isi buku itu, Radi menemani Bella pergi ke kantor polisi pusat dan meninggalkan latihan yang selalu diikutinya dengan teratur.
“Apa ini?” tanya salah seorang polisi yang menerimanya. “Itu bukti bagus bahwa kakek saya tidak bersalah! Tolong anda terima dan simpan di sini,” pinta Bella. “Dasar bodoh!” tukas polisi itu membanting buku itu ke lantai. “Apa yang anda lakukaan?!” seru Radi.
“Kalian bodoh ya? Mana mungkin aku menyerahkan ini pada pimpinanku? Lalu mengotori nama baik almarhum ayahku?” katanya. “Apa maksud anda?” tanya Bella. Ia bergidik melihat kilasan masa depannya bahwa polisi itu akan memburunya dan keluarganya, juga Radi.
“Kalian, tangkap dua bocah itu!” segera muncul beberapa orang polisi yang memihak orang itu. “Lari, Bella!” pekik Radi menarik tangan Bella setelah memungut buku merah itu kembali. Selama berlari, Bella melihat semua yang akan terjadi padanya dan Radi karena para polisi yang berhubungan dengan almarhum Joni Suwadi, teman kakeknya yang ternyata jahat itu.
“Radi! Kita ke telepon umum sekarang juga!” pekik Bella. Tanpa pikir panjang, Radi segera membawa Bella ke telepon umum terdekat seketika itu juga. Untunglah untuk sementara mereka dapat bersembunyi dari buruan polisi- polisi yang memihak Joni Suwadi tersebut.
Jantung Bella berdebar kencang saat menekan angka –angka penyusun nomor telepon dalam kepalanya. “Kamu menelepon siapa sih?” bisik Radi. “Sst! Kamu diam saja” sahut Bella mendengarkan suara dari lubang telepon tersebut. “Halo?” gumam suara seseorang yang mengangkat telepon itu.
“Halo, Pak! Tooloong!” seru Bella menjelaskan semuanya. Ckrek! Tiba- tiba ujung pistol telah meraba kepala Radi. “Sampai di sini saja, bocah. Kalian telah membawa benda yang berbahaya. Serahkan baik- baik dan kami tak akan mengusik kalian lagi!” suruh anak Joni Suwadi itu.
“Bella!” seru Radi melemparkan buku itu pada Bella. Bella menangkapnya dengan baik. “Cepat bawa buku itu dan laporkan semuanya pada polisi!” suruh Radi.
“Ta! Tapi…..” sanggah Bella.
“Jangan melakukan hal bodoh, anak muda! Atau aku juga akan melakukan hal bodoh pada kepalamu ini!” gertak polisi itu.
“Cepat, Bella!” seru Radi.
“Hentikaan!” pekik polisi itu.
DOORR!!. Bruuk!. “BELLAA?!” pekik Radi tertegun melihat dada Bella bersimbah darah karena mendorong Radi dan melindunginya. Kakek…. Maafkan aku ya sudah membencimu selama ini…. Radi, terimakasih sudah menyadarkanku akan kebaikan kakekku. Aku tidak akan menyesal meski harus mati demi dirimu, pikir Bella yang sudah kehilangan kesadarannya.
“Jangan bergeraak! Cepat jatuhkan semua senjata kaliaan!!” seru para polisi yang jumlahnya jauh lebih banyak dari komplotan polisi jahat itu. Mereka pun segera menjatuhkan semua senjata mereka. Bella segera dilarikan ke rumah sakit dan para polisi pemihak Joni Suwadi itu ditangkap.
“Bagaimanaa! Bagaimana kalau dia harus mati karena membersihkan nama baik keluarga kita?! Aku benar- benar tidak mauu!!” jerit mama Bella menangis histeris. “Tenanglah, ma! Dia pasti baik- baik saja! Dia lebih kuat dari kakeknya kok,” hibur papa yang memeluk mama.
“Tentu tak ada yang mau dia mati sekarang kan…. Aku percaya dia pasti bisa kuat!” kata Marsya dengan penuh kepercayaan. Radi yang dilindungi oleh Bella kini tak mampu berkata apa pun dan tak mampu melakukan apa pun. Yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa, supaya Bella sehat kembali dan bisa ikut upacara saat hari pahlawan besok.
Apa aku…. Akan bertemu kakek? Apa beliau akan marah karena aku sembrono?, pikir Bella. Tiba- tiba ia melihat kakeknya datang menemuinya. “Kakek?” gumam Bella. Kakek hanya tersenyum kemudian pergi lagi. Bella terbangun. “Bella! Syukurlah! Benar- benar puji Tuhan kamu sudah sadar!” seru mama tersenyum senang sampai menangis terharu. “Mama…. Sekarang tanggal berapa? Jam berapa?” tanya Bella.
“Sekarang tanggal 10 November jam 5 sore,” jawab mama yang mengusap air matanya. Bella segera melompat berlari ke sekolah. “Bella?! Tuungguu!” pekik mama menyusul Bella. Di luar hujan lebat, tapi Bella tetap berlari ke sekolahnya meski dadanya masih terasa sakit sekali.
Sekolah yang sepi dan kosong menyambutnya. “Sayaang! Kamu ini benar- benar sembrono sekali!” omel mama yang memayungi Bella. Bella melemas kecewa mengetahui ia tak bisa ikut upacara hari yang penting itu. Tak bisa melihat kekerenan Radi saat memimpin, dan yang terutama tak bisa menghormati pengorbanan kakeknya.
Tanpa sadar tangisnya meleleh. “Sayang, lihat itu,” bisik mama yang menunjuk ke arah tangga dekat aula di atas. Berdiri sosok anak laki- laki yang tak jelas wajahnya karena hujan. Ia masuk ke dalam aula atas. “Mama! Aku ke sana dulu yaa!” seru Bella mau menyusulnya.
“Tungguu! Bawalah payung ini, baru mama mengijinkanmu ke sana!”
Bella menerima payung itu, menggenggam kuat- kuat payung warna putih yang pernah menemani kakeknya itu. Bella tersenyum pada mamanya lalu berlari naik ka aula atas dan memasukinya. Mama tersenyum melihat putri bungsunya sudah dewasa.
“Mama! Mana Bella?” seru Marsya yang datang dengan taksi bersama papa.
“Dia di dalam sana kok. Menemui keberhasilannya,” jawab mama tersenyum menunjuk aula di lantai dua itu. Bella melamun kaget melihat seluruh siswa sekolah itu sudah berbaris rapi dengan pakaian seragam hari Senin lengkap dengan atributnya dan para guru yang sudah berbaris.
“Bella! Bella! Kak Bella! Kak Bella! Bella!” seru para murid di sana. “Ayo, baris! Kamu mau ikut upacara hari pahlawan kan?!” ajak Radi menarik tangan kanan Bella. Upacara berlangsung lancar dan tertib, meski Bella basah kuyup dan hanya mengenakan pakaian pasien.
Setelah upacara, diumumkan bahwa Bella menerima penghargaan bersama Radi karena telah memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang benar- benar mencerminkan kepahlawanan. Sorak sorai, pujian, dan tepuk tangan meriah meliputi ruang aula itu. Semua tadinya telah sepakat akan mengadakan upcara sampai Bella datang dan pindah ke aula lantai dua karena hujan, upacara itu sebagai hadiah untuk Bella.
Rupanya kemarin Bella menghubungi teman kakeknya yang sekarang menjadi kepala kepolisian dan minta ditolong. Kini seluruh media massa membahas kebenaran nama baik kakek Bella dan kejatuhan nama keluarga Joni Suwadi dan orang- orang yang memihaknya. Kini dalam buku paket pelajaran, nama Heru Raviani dicantumkan sebagai salah seorang pahlawan berjasa, dan bukan pahlawan berdosa.
Dalam buku yang ditemukan Bella memuat bahwa Joni Suwadi telah melakukan penggelapan uang negara dan kakek Bella memergokinya karena sudah melihat masa depan temannya itu. Mereka bertengkar dan saat itu Joni akan membunuh kakek Bella, tapi justru Joni sendiri yang mati karena kakek Bella dapat menghindar dan Joni terjatuh dengan pisau menusuk dada kirinya.
Saat itulah kakek Bella dinyatakan bersalah, semua salah paham mengira kakek Bella yang membunuhnya. Kini Bella menyimpan buku itu setelah difoto copy oleh pihak kepolisian sebagai bukti kebenaran. Dan Bella tersenyum menghadapi kebahagiaan yang menghampirinya, yang menyembuhkan luka hatinya yang menumpuk.
“Bella! Radi datang tuh!” seru mama. “Iyaa!” seru Bella segera berdandan lalu keluar menemui Radi.
“Hei. Bel.”
“Radi, ada apa?”
“Kamu mau nggak jalan- jalan sama aku?”
“Haah? Ke mana?”
“Eh, tapi rasanya nggak enak kalau jalan- jalan sebelum pacaran ya!”
Bella berdebar- debar keras dan jadi malu mendengarnya.
“Apa maksudmu sih, Di! Jangan bercanda!”
“Serius nih! Kamu mau kan jadi pacarku?”
“Maauu!!” seru Bella memeluk Radi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s